Atasi Banjir, DPUPR Kota Tangerang Susun Sistem Drainase Perkotaan

  • Whatsapp
Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah saat rapat dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Nana Trasyana. (FOTO : IST)
Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah saat rapat dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Nana Trasyana. (FOTO : IST)

TANGERANG, (vivabanten.com) – Untuk mengatasi banjir di wilayahnya Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), terus melakukan teroboson sehingga Kota Tangerang terlepas dari banjir maupun genangan.

Salah satu yang sedang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Tangerang untuk mengatasi persoalan tahunan ini, dengan melakukan kajian dan berencana membuat dokumen rencana induk pengendalian banjir dan sistem drainase perkotaan untuk meminimalisir banjir.

Bacaan Lainnya

Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah yang langsung membuka sosialisasi rencana induk pengendalian banjir dan sistem drainase perkotaan, Selasa (12/12/2017) mengatakan, dirinya meminta agar rencana pengendalian banjir tersebut, bukan hanya sebatas dokumen saja tapi harus menjadi dokumen action plain.

“Kami minta rencana induk pengendalian banjir dan sistem drainase perkotaan ini, harus menjadi dokumen action plan yang akan menghasilkan sebuah kebijakan, sehingga dapat meminimalisir dan mengatasi banjir di Kota Tangerang,” ujar Arief.

Petugas dari DPUPR Kota Tangerang saat melakukan pengerukan lumpur. (FOTO : IST)

Menurut Arief, Pemkot Tangerang telah melakukan berbagai cara seperti normalisasi dan pengerukan Sungai Cisadane, Kali Angke dan juga Kali Sabi serta Kali Cirarab. Namun, semua itu belum cukup mengentaskan persoalan banjir.

“Penanganan banjir di Kota Tangerang, mesti dilakukan dengan skenario berskala besar dan untuk jangka panjang. Untuk itu, Pemerintah telah melakukan upaya pencegahan. Namun, sejumlah titik tetap tergenang air setiap kali hujan turun maupun karena curah hujan yang tinggi di daerah hulu,” kata Arief.

Penanganan dan antisipasi harus dilakukan sejak dini dan melibatkan semua pihak. Arief juga mengimbau agar semua pihak menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup. Selain persoalan curah hujan tinggi Arief menyebutkan faktor sumber daya air di Kota Tangerang dipengaruhi oleh beberapa kondisi, antara lain seperti laju pertumbuhan urbanisasi terhadap perubahan tata guna lahan, berkurangnya daerah resapan air serta sampah pada drainase dan sungai.

“Untuk itu diperlukan penanganan yang komprehensif yang bisa menjadi guidance pengendalian banjir di Kota Tangerang,” ucap Arief.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Tangerang, Nana Trisyana menjelaskan, melalui sosialisasi rencana induk pengendalian banjir dan sistem drainase perkotaan ini diharapkan dapat dihasilkan suatu dokumen yang dapat memberikan acuan secara lengkap dan menyeluruh atas kondisi permasalahan dan potensi sistem drainase di Kota Tangerang.

“Dokumen ini nantinya sebagai dasar perencanaan jaringan drainase di Kota Tangerang, serta dipergunakan sebagai dasar Peraturan Daerah yang disahkan oleh Walikota.Tujuan sosialisasi ini juga untuk menghasilkan uraian lengkap mengenai potensi dan permasalahan sistem drainase, tersedianya data spesial terkini berupa peta foto resolusi sangat tinggi dan peta-peta dasar skala besar, membuat peta garis digital Kota Tangerang Skala 1: 5000, dengan luas yang ditinjau 164.54 km2,” ujar Nana.

Menurut Nana, pihaknya juga akan membuat peta garis digital Kota Tangerang Skala 1: 1000, kawasan terpilih untuk dilakukan DED, tergambarnya kondisi sistem drainase eksisting yang mencakup sistem alamiah dan sistem buatan, dihasilkannya suatu usulan indikasi program penataan sistem drainase berdasarkan kajian potensi dan permasalahan diatas, dihasilkannya peil banjir di seluruh Kota Tangerang dan memberikan suatu pedoman acuan untuk pengembangan pembangunan ke depan sistem drainase dengan memperhatikan kondisi eksternal dan internalnya, yang dapat digunakan dan dapat dipertanggung jawabkan untuk pengembangan pada tahap-tahap berikutnya.

Nana menjelaskan, kondisi eksisting di Kota Tangerang terbagi dalam 3 DAS besar yaitu Cirarab, Cisadane dan Angke dan saat ini yang teridentifikasi jumlah total titik lokasi banjir dan genangan sebanyak 383 titik. Hal ini disebabkan, ada pompa dan pintu air megalami kerusakan, sedimentasi saluran, muka air genangan lebih rendah dari pada muka air sungai, papasitas saluran drainase tidak memadai, terjadi perubahan tata guna lahan, lahan terbangun dari 62 persen menjadi 77 persen dan lahan tidak terbangun dari 38 persen menjadi 23 persen.

“Langkah kami dalam penanganan banjir dan genangan ini dengan normalisasi beberapa saluran drainase, pembuatan saluran kolektor drain yang dilengkapi dengan sistem pompa terpusat, pembuatan beberapa kolam detensi, normalisasi sungai dengan ditanggul dan sumur resapan dan bidang resapan,” pungkasnya. (ADVERTORIAL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.