Balmon Kelas I Tangerang Sosialisasikan Tertib Frekwensi Bagi Nelayan

  • Whatsapp

SERANG, (vivabanten.com) – Guna penertibkan jalur prekwensi radio yang benar dan tertib bagi para nelayan di wilayah Pelabuhan Karangantu Kota Serang.

Bacaan Lainnya

Balmon Kelas I Tangerang-Banten berikan Sosialisasi Tertib Penggunaan Radio Komunikasi Maritim di Aula Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, Serang-Banten, Rabu (4/10/2018).

“Disini kita lakukan sosialisasi untuk saudara-saudara nelayan. Kita disini di pelabuhan rakyat agar dapat memanfaatkan radio komunikasi yang benar dengan perangkat yang benar, bersertifikat dengan perangkat-perangkat maritim, serta menggunakan frekwensi-frekwensi yang benar,” ujar Sunarto Kepala Balai Monitor Kelas 1 Tangerang-Banten.

Menurut informasi, sambung Sunarto, nelayan-nelayan yang ada di wilayah Karangantu ini di bawah tiga puluh grouston, nelayan yang biasanya berada di laut hingga berhari-hari atau nelayan yang berangkat pagi pulang sore dengan kapal-kapal kecil.

“Nah untuk yang kapal-kapal kecil ini yang biasanya belum tau, kalau yang diatas tiga puluh grouston biasanya sudah tau dan itu wajib tau. Memang selama ini sudah satu dua yang tau, namun banyak juga yang belum menggunakan karena ketidak tauannya. Namun ada yang yang menggunakan menggunakan frekwensi semaunya dan kadang alat yang digunakannya pula seadanya dan tidak beraturan,” ungkapnya.

Sunarto menambahkan, pemilik kapal harus menyediakan alat komunikasi maritim guna kelengkapan kapalnya dan penggunakaan prekwensinya juga harus beraturan nantinya.

“Kalau kita bicara frekwensi maritim, ya harus yang digunakan juga frekwensi maritim, harus ada izin dan nelayan juga harus pakai. Diharapkan nelayan apapun harus ada, karena terkait frekwensi radio yang tidak beraturan ini banyak sekali yang mengeluhkan terutama dari penerbangan, bahkan bukan saja di dalam negeri, maskapai luar juga banyak yang mengeluhkan,” tukasnya.

Sementara itu Deputi General Manager Operasi AirNav Indonesia, Azmi Jamalullail menjelaskan, terkait frekwensi-frekwensi yang digunakan tidak semestinya, memang jelas sekali mengganggu, terutama bagi penerbangan, baik ketika teckoff maupun landing.

“Walaupun gangguan itu setiap saat terjadi, namun ketika ada pemakaian yang bocor atau tidak standar, itu bisa menyambar kepada frekwensi penerbangan dan itu sangat berbahaya,” jelasnya.

Namun, lanjut Azmi saat ini memang sudah jelas berubah dan berkurang gangguan-gangguan tersebut, karena disamping pemahaman-pemahaman juga kesadaran dari mereka yang semakin meningkat.

“Makanya sosialisasi ini penting sekali, untuk memberikan pemahaman dan kesadaran bagi saudara kita disini. Mudah-mudahan kedepannya bisa lebih kita minimalisir lagi gangguan tersebut, seiring tumbuhnya kesadaran dan pemahaman dari mereka” pungkasnya. (pais/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.