Bupati Serang Geram, Korban Tsunami Dipungut Uang Biaya Jenazah

  • Whatsapp

SERANG, (vivabanten.com) – Terkait adanya oknum pegawai RSUD Serang yang diduga menjadikan korban Tsunami sebagai ajang bisnis dengan memungut Biaya jenazah sampai jutaan rupiah, membuat Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah geram dan memanggil pihak rumaha sakit.

Namun dari hasil dari pertemuan tersebut, pihak rumah sakit yang dalam hal ini dihadiri oleh Wakil Direktur (Wadir) pelayanan Dr Rahmat enggan berkomentar banyak terkait pemanggilannya oleh orang nomer satu di Kabupaten Serang tersebut.

Bacaan Lainnya

“Jadi nanti kita akan melaporkan secara resmi,” cetus Rahmat kepada wartawan.

Terkait dugaan hal tersebut, lanjut Rahmat pihaknya nanti akan ada pernyataan resmi yang akan dilakukan pihak rumah sakit dalam hal ini Direktur.

“Pokonya nanti ada pernyataan resmi dari kami, jangan disulut-sulut lagi,” jelasnya.

Seperti diketahui sebelumnya korban meninggal akibat bencana tsunami Selat Sunda di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, diduga dijadikan ajang bisnis oleh oknum di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang.

Pasalnya tiga dari keluarga korban meninggal yang dilarikan ke RSUD Serang diminta untuk membayar sejumlah biaya oleh oknum di rumah sakit pemerintah itu.

Pihak keluarga korban disodorkan kwitansi yang dikeluarkan bagian Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Serang untuk melakukan pembayaran dengan rincian biaya pemulasaraan jenazah, formalin dan mobil jenazah.

Badiamin Sinaga perwakilan keluarga dari tiga korban tsunami yang meninggal bermarga Sinaga mengatakan, dirinya merasa kecewa dan bingung karena ada penarikan biaya yang disodorkan salah satu oknum rumah sakit kepada keluarga. Padahal sudah jelas ketiga korban meninggal tersebut adalah korban dari musibah bencana tsunami.

“Waktu itu keluarga kebingungan dengan adanya biaya yang harus dibayar yang diminta salah satu oknum di RSUD Serang, karena kebingungan serta bercampur dengan rasa panik agar urusan cepat selesai pihak keluarga langsung melunasi biaya ketiga korban yang sudah tertulis pada kwitansi. Ironisnya dalam hati kecil bertanya peruntukannya untuk apa penarikan biaya yang ada, apakah tidak ada bentuk bantuan terhadap korban bencana, sedangkan kelurga pun membutuhkan biaya untuk proses pemakaman,” katanya.

Lanjut Badiamin, ketiga korban meninggal ditarik biaya berbeda-beda, korban atas nama Ruspita Boru Simbolon, Rp3.900.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah, formalin dan mobil jenazah. Bayi Satria Sinaga, Rp800.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah, formalin serta korban atas nama Santi Boru Sinaga, Rp1.300.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah dan formalin. Ketiga pembayaran tersebut dilakukan oleh Leo Manullang, keluarga korban.

“Dalam hal ini perlu dilakukan penelusan secara bersama-sama apakah ada permainan terkait biaya penangan jenazah korban bencana tsunami atau memang ada oknum di RSUD Serang yang sengaja mencari keuntungan dari korban bencana tsunami tersebut. Bila memang ternyata ada oknum yang dengan sengaja menarik biaya diluar sepengetahuan managemen rumah sakit, kami meminta kepada Ibu Bupati Serang untuk menindak tegas oknum tersebut,” tandasnya.(pais/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.