Diduga PIP Offline Dipungli, KCD Ngaku Tidak Tahu

  • Whatsapp
Sirojudin (Batik Biru) Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

LEBAK, (VB) – Dugaan penyelewengan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) Offline di Banten bagi siswa dan siswi sekolah menengah atas (SMA) terus menyeruak.

Program bantuan yang berasal dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut, banyak kejanggalan.

Muat Lebih

Bahkan, Kepala Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Sirojudin mengaku tidak mengetahui adanya bantuan program Indonesia Pintar (PIP) Offline yang ada dibeberapa sekolah yang ada diwilayah binaanya, apalagi di SMAN 1 Curugbitung.

Menurut Sirojudin, berdasarkan pengakuan kepala sekolah, pihak sekolah sama sekali tidak pernah mengajukan apalagi mendapatkan PIP Offline.

“Kami tidak tahu menahu adanya program PIP Offline. Kalau PIP reguler ada, mekanismenya harus melalui pengajuan sesuai Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang ada di sekolah,” ujar Sirojudin, kepada wartawan, Selasa (25/2/2020).

Sirojudin menjelsakan, bahkan untuk mekanisme dalam penyaluran PIP tersebut juga harus menggunakan rekening siswa, ketika diberikan pula, harus dibuktikan dengan dokumentasi visual berupa photo maupun video.

“Tidak sembarangan, diajukan harus berdasarkan Dapodik di sekolah. Selain itu, saat penerimaan harus dibuktikan dengan dokumentasi visual ataupun video,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan, Holil Kepala KCD Pendidikan Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Menurut Holil, dirinya baru mendengar adanya bantuan PIP Offline, seperti apa bentuknya. Ia pun berjanji akan menelusuri keberadaanya, apalagi ada beberapa sekolah diwilayahnya yang tercatat didalam daftar penerima.

“Baru dengar saya, seperti apa itu bantuan PIP Offline. Kita akan telusuri keberadaanya,” kata Holil.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, beberapa SMA di Banten mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) Offline dari Kementrian Pendidikan. Namun ditengah perjalanan, program tersebut terdapat beberapa kejanggalan dan masalah, diantarannya, adanya dugaan pemotongan dari pihak-pihak atau oknum yang mengaku pihak yang mengurus pencairan.

Bahkan, ada sekolah yang sama sekali tidak mengajukan bantuan PIP tersebut, tapi ada dalam daftar penerima. Sehingga, pihak sekolah merasa dirugikan, karena nama nama siswanya dicatut. (akw/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.