Disperindag Kabupaten Tangerang Bakal Eskpose Hasil Temuan

  • Whatsapp

TANGERANG, (vivabanten.com) – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tangerang terhitung dari Bulan Februari-Juni 2019 berhasil mengawasi 116 perusahaan.

Hal ini dilakukan guna tercapainya target pengawasan sebanyak 250 perusahaan, guna mendukung kegiatan evaluasi hasil temuan dan pembinaan perusahaan industri pada September 2019 mendatang.

Muat Lebih

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tangerang, Teddi Suwardi mengatakan, bahwa dalam pengawasan perusahaan industri tersebut, pihaknya sudah membuat tabel permasalahan yang terdapat pada perusahaan industri di wilayah Kabupaten Tangerang.

Menurut Teddi, dalam pengawasanya dirinya menemukan pelangaran izin perusahaan seperti terdapat dua perusahaan dengan bidang usaha yang berbeda tetapi hanya memiliki satu jenis perizinan.

Kemudian, kata dia, didapati juga perusahaan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RT RW) dalam hal ini akan relokasi ke Desa Budi Mulya Kecamatan Cikupa perusahaan tersebut meminta toleransi hingga akhir bulan Oktober 2019.

“Selain itu, kami menemukan perusahaan  industri yang menggunakan perizinan bekas pabrik lama yang kemudian mengisi bangunan tersebut, didapati juga perusahaan industri yang  belum memiliki Surat Keterangan Domisili Usaha (SKDU), dan ada juga perusahaan yang belum memiliki Ijin Usaha Industri (IUI),” ujar Teddi kepada Wartawan, Selasa (16/07/2019).

Teddi menambahkan, pada pemeriksaan yang sama pihaknya menemukan perusahaan industri yang belum memiliki Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/UPL), kemudian ada yang belum memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perdagangan (TDP), serta terdapat juga perusahaan yang belum memiliki Ijin mendirikan Bangunan (IMB).

“Kemudian, kami mendapati perusahaan industri yang belum memiliki Site Plane, belum ada tanda daftar gudang (TDG), masih menggunakan sumur sumur satelit dan ada juga yang UKL/UPL masih dalam proses,” tuturnya.

Lebih lanjut Teddi menjelaskan bahwa, pihaknya masih kesulitan dengan perizinan Online Single Submission (OSS) yang berada dalam ranah pemerintah pusat, karena Nomor Induk Berdagang (NIB) perusahaan tidak sering mereka laporkan ke pemerintah daerah.

“Perusahaan sekarang melakukan ijinnya melalui OSS (Ijin Online) sehingga mereka merasa aman, karena menganggap tidak perlu adanya komitmen lagi ke daerah yang berkaitan dengan AMDAL, RT RW dan ijin lainnya. Dalam hal ini tentunya tidak kami benarkan, kedati demikian perijinan mereka harus terintegrasi dengan kebijkan daerah. Tentunya kedepan harus ada sosialisasi secara mendalam dan menyeluruh tentang OSS ini, baik dipusat maupun di daerah,” tukasnya.

Kemudian Teddi melanjutkan, guna menyikapi hal ini pihaknya akan melakukan kegiatan temu ekpose hasil lapangan bersama pimpinan perusahaan  dengan OPD terkait. Langkah ini dilakukan sebagai klinik penyelesaian masalah.

“Rencananya dua bulan ke depan kita akan undang perusahaan yang bersangkutan, kemudian akan disondingkan dengan beberapa OPD seperti DPMPTS, Satpol PP, DLHK, Disnaker, Kepolisian dan instansi terkait lainnya,” pungkasnya

Disperindag melakukan hal ini, sebagai upaya dalam mencari solusi bersama untuk membantu perusahaan dalam dapat melengkapi kelengkapan administrasi dan taat aturan.

“Pertemuan ini dilakukan, dalam upaya memberikan bimbingan dan pembinaan pelaku usaha. Kami tidak akan menghakimi bahkan membawa ke ranah hukum, disisi lain karena bukan hak kami,” tutupnya. (mad/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.