Kelapa Jenggi Zaman Hindia Belanda Ada Di Ciputat Tangsel

  • Whatsapp

TANGSEL, (vivabanten.com) – Ciputat menjadi obyek wisata dan daya tarik pesona berbagai kalangan. Konon banyak temuan barang unik dan langka di Ciputat.

Walau sudah menjadi bagian dari Kota Tangerang Selatan sebelumnya Cipasera (Ciputat, Pamulang,  Serpong,  Pagedangan dan Pondok Aren),  nama Ciputat tak bisa lepas dari sejarah para perintis dan pendiri Kota Tangerang Selatan sebagai ibukotanya.

Asal nama Ciputat sendiri, historis awal menyebutkan adanya pohon putat yang tumbuh liar dikawasan daerah tersebut,  berbagai cerita tentang Ciputat begitu banyak dikenal orang bahkan orang luar Jakarta pun sudah mengenal nama Ciputat dengan berbagai versinya.

Hal menarik tentang Ciputat adalah adanya temuan buah pohon kelapa kembar siam di era Hindia Belanda, berdasarkan informasi didapat bila buah kelapa jenggi yang saat ini berada dikeluarga M Natsir atau akrab disapa Lurah Acing sejak kakek neneknya tinggal di Ciputat kelapa jenggi tersebut sudah ada dan memang peninggalan hindia belanda.

“Buah Kelapa Jenggi ini entah bagaimana bisa sampai kesini (Ciputat-red), tentunya bentuk buah kelapa ini sama dengan milik buah kelapa Kasepuhan Cirebon,  dempet dua dan bentuknya mirip pangkal alat kelamin perempuan,” ujar M Natsir memulai cerita.

Berbagai legenda menyebutkan buah Kelapa Jenggi memiliki banyak nama diantaranya double coconut, coco de mer,  atau ladys butt coconut sedangkan di Indonesia dikenal dengan sebutan kelapa Jenggi.

Hal menarik katanya pohon kelapa ini tumbuh dari dalam laut, sebabnya pohon buah ini tidak pernah ditemukan tapi buahnya selalu terbawa arus ke berbagai pulau dan negara, fakta atau dongeng mengatakan siapa saja menemukan buah kelapa Jenggi ini dinegaranya akan bernasib baik.

Kisah di Indonesia sendiri pertama kali pohon Jenggi ditemukan di Kebun Raya Bogor pada tahun 1931 setelah 30 tahun ternyata pohon kelapa ini menghasilkan bunga betina.

Pada tahun 2004 bunga dari pohon kelapa Jenggi disilangkan dengan individu jantan yang berasal dari Kebun Raya Singapura. Sementara info lain menyebutkan  bila bunga tersebut akan masak dalam 7 (tujuh)  tahun kedepan.

“Saya memiliki buah kelapa Jenggi sejak masih kecil yang baru ‘ngeh’ saat menjabat lurah kala itu,” ucap Babeh Acing seraya menambahkan kini kelapa Jenggi menjadi daya tarik sendiri sebab cuma ada di Ciputat padahal ini kelapa peninggalan zaman Hindia Belanda.

“Ciputat menjadi pesona sejarah Indonesia termasuk sejarah bagi perjalanan terbentuknya Kota Tangerang Selatan,  semoga historis yang ada dipertahankan jangan lagi ditinggalkan apalagi diganti-ganti historis Ciputat,” pungkasnya.(yaz/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.