Menelusuri Jejak Sejarah Dinasti Pengusaha Rokok Sampoerna Surabaya

  • Whatsapp
House Of Sampoerna Surabaya.

SURABAYA, (vivabanten.com) –
Bagi para penikmat sejati rokok Dji Sam Soe, Sampoerna Mild dan produk rokok lainnya dari hasil produksi PT. HM Sampoena tidak ada salahnya untuk mengetahui tentang sejarah berdirinya pabrik rokok yang ada di Kota Surabaya ini.

Dibawah ini redaksi vivabanten.com akan mengupas tentang sejarah berdirinya pabrik rokok terbesar di Indonesia langsung dari Kota asalnya yakni kota yang memiliki segudang sejarah pahlawan yaitu Kota Surabaya.

Dinasti Sampoerna yang sangat legendaris dengan industri rokok kreteknya tentu sangat menarik. Siapa sangka jika industri rokok yang menggurita dan kini telah beralih kepemilikannya ke perusahaan asing itu ternyata berawal dari usaha kecil-kecilan yang berupa asongan tembakau dan dilakukan oleh sang pendirinya yaitu Liem Seeng Tee.

Di Kota Surabaya – Jawa Timur kita bisa menyimak jejak dan sejarah Dinasti Sampoerna itu melalui sebuah museum yang indah dan ekslusif. Museum itu adalah House of Sampoerna yang berada di Jl. Taman Sampoerna No. 6 Surabaya, tak jauh dari bekas penjara Kalisosok yang terkenal itu.

Sesuai dengan namanya, museum ini memang berkaitan erat dengan perjalanan Sejarah merk rokok yang terkenal yaitu rokok Sampoerna. Pasalnya, bangunan gedung yang digunakan sebagai museum ini dulunya adalah cikal bakal berdirinya perusahaan besar itu.

Selain digunakan sebagai museum, di bagian belakang House of Sampoerna sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat memproduksi rokok dalam kapasitas produksi yang kecil. Aktifitas pekerja membuat (melinting) rokok kretek itu bisa dijumpai pada jam dan hari kerja.

A Cafe Sampoerna.

Memasuki halaman museum tampak berdiri bangunan megah dan artistik dengan tamannya yang asri. Pada bangunan yang bertuliskan A Caf dan saat ini berfungsi sebagai caf itulah, sosok pendiri perusahaan Sampoerna yaitu Liem Seeng Tee dulunya tinggal bersama keluarganya dan membesarkan usahanya.

Liem Seeng Tee (1893-1956) adalah seorang imigran dari sebuah keluarga miskin di Provinsi FujianCina. Pada tahun 1898 tidak lama setelah ibunya meninggal, Liem Seeng Tee bersama ayah dan seorang kakak perempuannya datang ke Indonesia untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Foto almarhum Liem Seeng Tee bersama Istrinya Siem Tjiang Nio.

Pada perjalanan hidupnya di Indonesia, Liem Seeng Tee diangkat sebagai anak oleh sebuah keluarga di Bojonegoro, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Ia pada usia 17 tahun mulai belajar meracik tembakau yang kemudian dijualnya secara asongan di stasiun kereta api dan gerbong-gerbong kereta api.

Pada tahun 1912, Liem Seeng Tee menikah dengan Siem Tjiang Nio. Mereka kemudian menyewa sebuah warung kecil di daerah Tjantian di Surabaya untuk menjual berbagai bahan pokok, buah-buahan dan tembakau. Selain di warungnya, Liem Seeng Tee juga menjual tembakau dengan menggunakan sepeda ontel menyusuri jalan-jalan di Surabaya.

Dengan perjuangan dan kerja keras Liem Seeng Tee itulah perusahaan rokok Sampoerna dimulai dan selanjutnya berkembang pesat. Pada tahun 1913, Liem Seeng Tee mendirikan perusahaan tembakau dan rokok bernama Handel Maastchapij Liem Seeng Tee yang kemudian berganti menjadi N.V. Handel Maastchapij Liem Seeng Tee.

Replika warung yang dulu menjadi tempat jualan.

Kelak setelah PD II berakhir nama perusahaan itu berganti menjadi PT. HM Sampoerna. Nama HM (Hanjaya Mandala) Sampoerna itu adalah nama Indonesia dari Liem Seeng Tee. Bangunan pabrik rokok dan tembakau ini didirikan pada tahun 1964 dan dulunya bernama Jonges Weezen Inrichting atau Panti Asuhan Yatim Piatu untuk anak laki-laki. Pada tahun 1912, panti asuhan itu pindah ke Jalan Embong MalangSurabaya.

Liem Seeng Tee pada tahun 1932 membeli bangunan ini dan menggunakannya sebagai pabrik untuk memproduksi rokok Sampoerna. Sejak saat itu tempat ini dikenal sebagai Pabrik Taman Sampoerna. Bangunan ini berada di lahan seluas 1,5 hektar dengan terdapat bangunan bangunan besar di tengah dan diapit dua bangunan kecil di kiri dan kanannya.

Di bangunan utama yang besar dulu terdapat aula yang cukup luas. Aula itu atas saran dari istri Liem Seeng Tee kemudian digunakan menjadi gedung bioskop dengan nama Sampoerna Theater. Pada masanya gedung bioskop ini sangat terkenal karena dilengkapi dengan panggung berputar dan lantai buatan untuk memberi efek khusus.

Diantara tokoh-tokoh terkenal yang pernah datang ke gedung bisokop ini adalah Ir. Soekarno yang sering menggunakannya untuk mengobarkan semangat Perjuangan pada rakyat Indonesia. Aktor film Charie Chaplin juga pernah datang ke gedung bioskop ini.

Tak jauh dari bangunan caf, terdapat bangunan yang berwarna abu-abu dan betuknya menyerupai benteng dengan pilar-pilarnya berbentuk replika rokok kretek merk terkenal produksi Sampoerna. Pada bagian atas bangunan ini terdapat tulisan dalam bahasa Belanda.

Bangunan itulah yang saat ini menjadi museum House of Sampoerna. Bangunan utama museum seluas 6695 m2 dan terdiri dari dua lantai. Lantai satu seluas 1357.90 m2 dan lantai dua seluas 220 m2. Di dalam museum ini terdapat beberapa petugas Pemandu yang akan membantu pengunjung.

Dengan kemampuan bahasa asingnya yang fasih dan lancar, mereka akan memberikan pemanduan dan penjelasan kepada pengunjung dalam menyimak koleksi museum dan sejarahnya. Ruangan dan Koleksi Museum tertata secara apik dan elegan dengan pendaran cahaya lampunya yang diatur secara khusus.

Petugas museum House Of Sampoerna saat memandu vivabanten dalam menjelaskan produk-produk Sampoerna.

Di ruangan museum bisa dijumpai miniatur warung yang dulu digunakan oleh Liem Seng Tee dan istrinya berjualan di Surabaya, miniatur gudang penyimpan dan pengering tembakau, pajangan tembakau dan cengkeh pilihan yang segar baunya dan peralatan membuat rokok dan percetakannya.

Ada juga pajangan benda-benda pribadi milik Liem Seeng Tee dan keluarga seperti piringan hitam, foto-foto, furniture, Kristal berbagai bentuk, dan pakaian. Koleksi lainnya berupa potongan kemasan lama korek api, lemari besi kuno, peralatan produksi dan, perlengkapan drumband Sampoerna pada tahun 1990-an, dan sepeda motor kuno yang dulunya menjadi armada penjualan rokok Sampoerna dan foto-foto lainnya.

Sepeda peninggalan Liem Seeng Tee.

Pada bagian lantai dua museum terdapat ruangan untuk souvenir. Dari ruangan ini dengan dibatasi sekat kaca bisa menyaksikan aktifitas pekerja membuat rokok. Sayang demi alasan privasi dan kenyamanan, pengunjung dilarang memotretnya.

Selain museum dan caf, di lokasi ini pengunjung juga bisa menyimak koleksi benda-benda di galeri seni yang ada di belakang caf.

Bisa juga dengan mengikuti Surabaya Heritage Track, yaitu program wisata kota Surabaya yang diadakan secara gratis oleh pihak museum dengan menggunakan angkutan bus yang bentuknya seperti trem.

Produk rokok dari PT. HM Sampoerna.

Dalam Surabaya Heritage Track dengan 3 kali trip dalam sehari itu peserta wisata kota yang dibatasi 20 orang setiap tripnya itu akan ditemani dengan pemandu mengunjungi tempat-tempat wisata religi dan tempat-tempat bersejarah lainnya di Surabaya.Seperti Kelenteng, kawasan Makam Sunan Ampel, Rumah Abu Keluarga Han, dan sebagainya.

House of Sampoerna ini buka setiap hari mulai dari pukul 09.00-22.00. Berkunjung ke museum ini bisa membawa kita mengenang sepenggal jejak dan sejarah industri rokok kretek di Indonesia.(jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.