Miris !! Yusuf Bersama Istri dan Anak Kembar Tinggal Diatas Becak

  • Whatsapp
Yusuf Salim, istri dan anaknya yang tinggal diatas becak di sekitar bantaran kali Cisadane. (Foto : usdo/vivabanten.com)
Yusuf Salim, istri dan anaknya yang tinggal diatas becak di sekitar bantaran kali Cisadane. (Foto : usdo/vivabanten.com)

TANGERANG, (vivabanten.com) – Banyak daerah menjadikan Kota Tangerang sebagai kota tujuan untuk percontohan dalam segala hal, bahkan Kota yang bermotto Akhlakul Karimah ini kerap kali mendapatkan penghargaan sebagai kota terbaik tingkat provinsi maupun nasional.

Kota seribu industri yang dipimpin Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah ini terus berupaya mewujudkan kota yang layak huni, layak investasi, layak dikunjungi dan kota yang menggunakan teknologi informasi berbasis elektronik.

Bacaan Lainnya

Namun, dibalik banyak prestasi yang telah diraih Pemkot Tangerang ini masih ada warganya yang hidup dalam garis kemiskinan, dan hidup jauh dari kata layak. Ironisnya, keadaan seperti ini luput dari perhatian Pemkot Tangerang.

Seperti yang dialami sepasang keluarga dengan dua anak kembar yang hidup dan tinggal diatas becak. Sebut saja, Yusuf Salim dan Riyamah serta dua anak kembarnya, Maulana Akbar dan Maulana Bukhori, mereka sudah empat bulan tinggal diatas becak di bantaran Kali Cisadane Jalan Benteng Makasar, Kecamatan Tangerang Kota Tangerang.

Yusuf Salim ketika dikonfirmasi wartawan vivabanten.com mengatakan, dirinya terpaksa tinggal di atas becak karena ketidak mampun untuk menyewa rusunawa di wilayah Gebang Raya, sehingga dia memutuskan untuk tinggal diatas becak dengan istri dan kedua anak kembarnya.

Yusuf Salim, istri dan anaknya saat menunjukkan administrasi kependudukan asli Kota Tangerang di bantaran kali Cisadane. (Foto : usdo/vivabanten.com)

“Dulu setelah anak kembar saya lahir, kami dibantu oleh Pemkot Tangerang untuk persalinan dan kami ditempatkan di Rusunawa Gebang Raya Blok C 102. Bulan pertama kami gratis tinggal disana tapi bulan berikutnya kami diminta uang sewa sebesar Rp 300 ribu ditambah uang air dan listrik, hingga total Rp 500 ribu sebulan,” ujar Yusuf, Selasa (10/10/2017).

Menurut Yusuf, dengan penghasilan dirinya yang hanya menjadi tukang becak maka uang sewa Rusunawa sebesar Rp 500 ribu menjadi beban dan akhirnya tidak sanggup lagi bayar. Dirinya hanya bisa bertahan di Rusunawa Gebang sekitar delapan bulan dan memutuskan untuk keluar.

“Saya benar-benar tidak sanggup untuk membayar sewa Rusunawa, karena penghasilan mengayu becak tidak tentu, belum lagi untuk biaya makan dan kebutuhan anak kembar saya. Untuk itu, saya memutuskan untuk keluar Rusunawa,” ucapnya.

Seharusnya lanjut Yusuf, Pemerintah Kota Tangerang kalau membantu warganya yang miskin jangan setengah-setengah. Untuk itu, dirinya berharap Pemkot Tangerang dalam hal ini Walikota Tangerang bisa membantu meringankan beban hidupnya.

“Kami hanya mengandalkan hasil usaha menarik becak untuk kebutuhan sehari-hari dan belas kasian serta uluran tangan dari warga sekitar. Untuk mandi dan mencuci pakaian kami gunakan air kali Cisadane dan untuk minum kami beli air isi ulang,” tuturnya lirih.

Yusuf menambahkan, jika malam hari tiba dirinya bersama istri tidur diatas trotoar dengan beralaskan karena diatas becak hanya muat untuk tidur kedua anaknya. Yang lebih menyedihkan lagi ketika hujan turun, dirinya bersama istri menggunakan terpal yang dibentangkan diatas becak.

“Kalau hujan turun di malam hari, kami tidak bisa tidur karena trotoar basah dan hanya bertedu dibawah terpal. Yang penting kedua anak kami bisa tidur, itu sudah cukup,” tukasnya. (usdo/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.