Nenek Nantin Butuh Perhatian Pemda Tangsel

  • Whatsapp

TANGSEL, (vivabanten.com) – Nenek Nantin (63) warga Kampung Buaran RT 03/07 No 125, Kecamatan Serpong Kota Tangerang Selatan meminta Pemda peka atas nasibnya.

“Saya sangat menyesal banyak pejabat dan orang penting di Tangsel, namun tak satu pun peduli. Padahal saya sudah tinggal puluhan tahun disini,” ujar Nenek Nantin mengelus dadanya.

Menurut Nantin, tidak ada rasa empati sekalipun dari Walikota Tangsel, Airin padahal sudah dua kali dirinya memilih walikota pada Pilkada Tangsel.

Nenek Nantin yang kesehariannya bekerja sebagai pesapon di Taman Kota 2 dengan upah 50 ribu per pekan dan tiap hari berangkat dari rumah pukul 06.00 hingga 12.00 Wib sudah sampai rumah.

“Saya bersyukur masih bisa mengumpulkan rongsokan botol plastik lalu ditukar uang, kadang saat menyapu mendapat uang sekedarnya dari pengunjung di Taman Kota 2 yang merasa iba terhada saya,” ucapnya lirih.

Diakui Nenek Nantin, dirinya sudah buta huruf sejak kecil akibat kebodohan keluarganya yang tidak sanggup menyekolahkan anak- anaknya saat di zaman Belanda. Ia pun sudah menjadi janda sejak kematian suaminya yang ditemukan tewas dipemakaman umum Cimanggis saat bekerja sebagai tukang becak.

“Saya tidak memiliki firasat apapun.pada saat itu, seperti biasa suami (Adin) selalu berangkat menarik becaknya diseputar Ciputat setelah selesai momong putri semata wayangnya,” tuturnya.

Kematian suami pun saya dapatkan dari berita dikoran yang dibeli abang laki-laki saya, dalam berita disebutkan diduga sebagai korban pembunuhan kemudian oleh pihak kepolisian jenazah suami di autopsi di RSCM Jakarta.

Akibat mayat suami sudah lama meninggal dan membau pihak RSCM meminta kepada keluarga untuk segera dibawa pulang, kami pun makamkan secepatnya.

Sejak suami meninggal saat itu Nenek Nantin menghidupi anaknya dengan berjualan kacang tanah ditiap ada pertunjukan layar tancap, disaat ada pesta pernikahan atau khitanan. Hingga kini Ia belum tahu siapa dan kenapa suaminya ditemukan tewas terbunuh.

“Saya kerja nyapu-nyapu awalnya diajak tetangga dan sudah 7 bulan disini. Saya tinggal sendiri dengan kondisi rumah yang sangat memilukan. Anak saya perempuan kini tinggal bersama suaminya,  hanya sesekali Ia menengok kesini,” tukasnya.

Hasil pantauan, rumah nenek Nantin hanya terbuat dari bambu tua dan menyedihkan. Sebab terlihat sana sini sudah berlobang yang ditunjang kayu apa adanya.

Terpisah,  Acih Suharsih (35) putri semata wayang dari Nenek Nantin menjelaskan, bila sudah lama Ia mengajukan agar rumah ibunya dapat program bedah rumah dari pemerintahan kota Tangerang Selatan.

“Rumah sudah sering kebanjiran akibat bocor disana sini dan air masuk dari jalanan depan ini,” ucap Acih pilu sebab suaminya pun hanya kerja serabutan.

Harapnya rumah ibu mendapat sentuhan dan uluran tangan pejabat dalam program bedah rumah

“Triplek saya pasang dikamar ibu hasil membeli triplek bekas yang didapatnya, semoga saja pejabat bisa melihat dan peka atas ketidakmampuan kami memperbaikinya,” pungkasnya.(diaz/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.