Pemkot Tangerang Gelar Festival Budaya Nusantara 2017

  • Whatsapp
Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah didampingi Sekda Dadi Budaeri dan seluruh SKPD saat mengikuti gerak jalan pawai budaya. (FOTO : IST)
Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah didampingi Sekda Dadi Budaeri dan seluruh SKPD saat mengikuti gerak jalan pawai budaya. (FOTO : IST)

TANGERANG, (vivabanten.com) Untuk melestarikan potensi budaya yang ada di wilayahnya, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar event Gerak Jalan Batik Nasional dan Kirab Baju Adat Daerah sebagai rangkaian Festival Budaya Nusantara Tahun 2017, yang diikuti tak kurang dari 30.000 peserta yang berasal dari berbagai unsur mulai dari OPD, guru hingga organisasi kemasyarakatan di Kota Tangerang.

Kegiatan gerak jalan dan kirab budaya nusantara ini mengambil titik start di tugu Adipura Kota Tangerang dan finish di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang dan diramaikan dengan berbagai pertunjukan mulai dari kesenian sisingaan dari Subang hingga pawai baju daerah dari berbagai daerah di Indonesia oleh OPD kota Tangerang.

Walikota Tangerang Arief R Wismansyah yang hadir bersama Ketua TP PKK Kota Tangerang, Hj. Aini Suci serta seluruh pejabat di lingkup Kota Tangerang mengatakan, kegiatan Festival Budaya tersebut dihadiri oleh 11 kabupaten/kota dan sanggar-sanggar yang ada di Kota Tangerang. Seperti Kota Kediri dan Bandung dengan pertunjukan barongsai, baju pengantin nusantara, musik gambang kromong, tari kolosal, hingga atraksi dari 1000 jawara Kota Tangerang. Dengan tujuan melestarikan berbagai potensi budaya yang ada di Kota Tangerang.

Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah saat menaiki Sisingaan pada Festival Budaya. (FOTO : IST)

“Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 3 sampai 7 Desember. Mudah-mudahan seluruh masyarakat bisa menikmati berbagai budaya dari bermacam-macam suku bangsa yang ada di Kota Tangerang,” ujar Walikota dalam sambutannya.

Menurut Arief, dirinya menyebut pada festival kali ini akan ada budaya jaman now. Yakni perpaduan budaya dengan teknologi dengan mengangkat tari rama shinta dipertunjukan pada akhir festival.

“Jadi dengan adanya festival budaya ini masyarakat bisa menjaga harmonisasi budaya. Dalam Festival Budaya ini juga diisi dengan berbagai perlombaan diantaranya lomba palang pintu, lomba tari kreasi nusantara, lomba baju pengantin tradisional, lomba standup comedy serta penampilan sendratari Ramayana dan pertunjukan lighting Tangerang Dalam Visual di penutupan kegiatan,” ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Rina Hernaningsih menjelaskan Festival Budaya bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan yang berkembang, agar mampu bersaing di tingkat nasional dan sekaligus memupuk rasa cinta terhadap kebudayaan lokal.

Menurut Rina, di Kota Tangerang banyak seni dan budaya yang memiliki potensi sangat besar untuk diperkenalkan ke Indonesia. Sehingga, Festival Budaya juga akan memotivasi masyarakat untuk terus berkarya dan berkreatifitas di bidang seni budaya sekaligus menumbuhkan ekonomi kreatif.

“Festival Budaya 2017 adalah upaya Pemkot Tangerang melestarikan seni dan budaya sekaligus promosi ke seluruh daerah sebagai persembahan dari Kota Tangerang untuk Indonesia dan juga mewujudkan Kota Layak Dikunjungi,” ungkapnya.

Rina menjelaskan, pada akhir Festival Budaya tahun 2017 ini ditutup dengan pegelaran pertunjukan wayang golek dari sanggar Gentra Lodaya untuk menghibur pengunjung festival budaya. Pengunjung baik muda-mudi maupun orang tua dan masyarakat sekitar tampak antusias menonton pertunjukan tersebut.

“Kami menghadirkan dalang cilik Raden Muhammad Rafi Fatan dalam pagelaran wayang golek, dengan mengisahkan Sanghyang Muncar Brahma. Ini sebagai bukti bahwa keberagaman budaya di Kota Tangerang memiliki potensi untuk kanca nasional,” tukasnya.

Walikota Tangerang, Arief R Wismansyah didampingi Ketua DPRD, Suparmi saat melepas peserta gerak jalan. (FOTO : IST)

Sementara itu Kepala Babidang Pariwisata Disbudpar Kota Tangerang, Rizal Ridolloh mengaku, peran budaya Tangerang sangat berpengaruh, dalam meningkatkan pariwisata. Pasalnya jika budaya berkembang maka tingkat pariwisata juga akan naik.

“Dan ini salah satu bentuk visitible atau layak di Kunjungi. Tahun kemarin di Bulan November cuma 400 ribuan wisatawan, sekarang udah 750ribu,kita pengen satu juta sampai dengan akhir tahun,” katanya.

Festival Budaya 2017 ini menyediakan lebih dari 50 stand. Yang terdiri dari stand kuliner, kerajinan tangan dari berbagai budaya, aksesoris baduy, Papua dan Betawi.

Setelah selesai pembukaan Festival Budaya, kegiatan dilanjutkan dengan gerak jalan yang dipimpin langsung oleh Walikota Tangerang beserta jajarannya, dimulai dari Tugu Adipura sampai pusat Pemerintahan Kota Tangerang. Diakhir pembuka pengunjung dan peserta festival disajikan pertunjukan dari berbagai sanggar dan komunitas di Kota Tangerang.

Pagelaran Wayang Golek Semalam Suntuk

Raden Muhammad Rafi Fatan dalang cilik mengatakan, dirinya dalam pagelaran wayang golek tersebut mengangkat kisah Sanghyang Muncar Brahma adalah kisah pada tahun 1900 sebelum masehi. Ini kisah yang menceritakan dahulu kala terdapat manusia biasa yang bernama Sanghyang Muncar Brahma dan merupakan saudara dari lakon kedua yaitu semar.

“Saudara Semar sifatnya sombong mau ngetes kekuatan, terus nyari masalah merebut wanita dari surga. Kemudian wanita yang bernama Dewi Umay itu nolak tapi dia tetap maksa dan ngancurin surga, sehingga membuat para dewa marah,” ujarnya.

Pagelaran Wayang Golek semalam suntuk. (FOTO : IST)

Para dewa pun bertarung dengan Sanghyang Muncar Brahma namun akhirnya kalah dan tersingkir. Dewi Umay menangis meskipun sudah dipaksa tetapi tetap tidak mau untuk menikah dengan togog nama lain dari Sanghyang Muncar Brahma.

“Lalu Dewi Umay memberi syarat harus dua istri dengan istrinya Semar. Togog pun bersama pasukannya ke kampung tumaritis yakni kampungnya Semar untuk mengambil istri Semar, tapi Semar tidak terima kemudian Semar menurunkan anak buahnya namun tetap saja kalah, tuturnya.

Kemudian gatot kaca yang merupakan anak buah Semar turut membantu dan tidak terima dengan perlakuan togog hingga akhirnya berkelahi dan kalah oleh togog.

“Diakhir datang seorang kesatria yang mengajak gatot kaca untuk masuk kedalam dirinya, seketika Semar pun menghilang. Ketika sudah bergabung kesatria menang dan mengalahkan togog yang terkenal sebagai (raja merah),” paparnya.

Diakhir cerita diketahui bahwa kesatria tersebut adalah Semar dan para dewa beserta gatot kaca yang bergabung menjadi satu. Ternyata togog atau Sanghyang Muncar Brahma adalah sepupu dari Semar mereka pun akhirnya berubah ke diri mereka sendiri menjadi manusia pada umunya.(ADVERTORIAL)

 

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.