PERAN PENTING TENAGA KONSELING MENYUSUI

  • Whatsapp

 OLEH :

 MARTHIA IKHLASIAH, SST, MKM

Menurut Sumber Pemantauan Status Gizi Tahun 2017, Ditjen. Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2018 Angka Cakupan pemberian Asi Ekslusif di Indonesia hanya 35,73  %, angka tersebut masih jauh dari yang ditargetkan oleh WHO (World Health Organitation) yaitu 80 %. World Health Organization merekomendasikan pemberian ASI Ekslusif sekurang- kurangnya selama 6 bulan pertama kehidupan dan dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping sampai usia 2 tahun.

ASI merupakan makanan yang terbaik yang dapat diberikan kepada bayi secara mudah dan murah. Beberapa manfaat ASI diantara nya adalah:1. ASI kaya akan zat penting yang dibutuhkan bayi. Bila dibandingkan ASI dengan produk susu kalengan atau formula untuk bayi, ASI tetap terunggul dan tak terkalahkan. 2. ASI sebagai sarana untuk mendekatkan ibu dan bayi. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kalau anak yang mendapatkan ASI eksklusif dari sang ibu akan cenderung mempunyai kedekatan dan hubungan yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan asupan ASI. 3. ASI memberikan kekebalan yang optimal untuk bayi. Karena ASI memiliki banyak keunggulan kandungan zat-zat penting yang terkandung di dalamnya, hal itu dapat membuat bayi berkembang dengan optimal. 4. ASI tidak basi dan selalu segar. Tidak seperti susu yang lain, ASI tidak akan basi, karena ASI  langsung dihasilkan di payudara sang ibu tanpa campur tangan bahan kimia. 5. ASI akan berubah sesuai kebutuhan bayi. Salah satu manfaat ASI lainnya adalah memiliki sistematika cara kerja yang sangat unik, karena dengan sendirinya komponen ASI akan berubah sesuai dengan kebutuhan dan usia sang bayi. 6. ASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi. ASI aman, bersih, ramah lingkungan dan mengandung antibodi yang membantu melindungi terhadap banyak penyakit umum yang terjadi pada anak. Anak yang diberi ASI secara optimal menunjukkan tes kecerdasan yang lebih baik, cenderung tidak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dan tidak rentan terhadap penyakit diabetes di kemudian hari. Wanita yang menyusui juga memiliki risiko yang lebih rendah terkena kanker payudara dan ovarium. The Lancet Breastfeeding Series, 2016 menyatakan bahwa memberi ASI dapat menurunkan angka kematian bayi akibat infeksi sebesar 88%. Selain itu, menyusui juga berkontribusi terhadap penurunan resiko stunting, obesitas, dan penyakit kronis di masa yang akan datang. Sebanyak 31,36% dari 37,94% anak sakit, karena tidak menerima ASI Ekslusif. (sehatnegeriku.kemenkes)

Dari beberapa manfaat pemberian ASI yang telah dipaparkan diatas, jelas bilamana pemberian ASI Ekslusif untuk bayi berhasil maka dapat dikatakan kualitas generasi bangsa kedepannya akan jauh lebih baik. Dana yang digunakan untuk perawatan untuk anak sakit yang disebabkan oleh pemenuhan gizi yang kurang adekuat dan ibu yang juga sudah barang tentu dapat di tekan. Namun demikian mengapa Pemberian ASI Ekslusif masih rendah di Indonesia????

Penyebab rendahnya Pencapaian Angka Cakupan ASI ekslusif yang masih rendah di Indonesia dari berbagai penelitian yang dilakukan, dikemukakan bahwa ada beberapa hal menjadi penyebabnya. Diantaranya Pengetahuan Ibu yang masih rendah tentang proses menyusui dan support lingkungan terdekat ibu dalam mendukung keberhasilan dalam proses menyusui .

Mari kita lihat bersama secara mendalam tentang pengetahuan ibu dan dukungan lingkungan dalam support nya mendukung gerakan pemberian ASI Ekslusif. Dalam beberapa Penelitian dikemukakan bahwa Tingkat pengetahuan seorang wanita atau ibu erat hubungannya dengan keberhasilan menyusui. Mengutip data dari Susenas 2015 menunjukkan bahwa rata rata lama pendidikan perempuan adalah 8,1 tahun dibawah rata-rata pendidikan nasional 8,4 tahun.. Angka usia menikah di Indonesia untuk wanita dibeberapa daerah masihlah sangat muda. Data Pusat Statistik Indonesia mencatat bahwa dibeberapa daerah di Indonesia masih di temukan usia menikah perempuan dibawah 18 tahun. Sebagaimana Undang Undang Tahun 1974 dalam Pasal 7 ayat (1) yang mengatur ketentuan batas usia menikah adalah 16 tahun untuk perempuan. Hal ini berkaitan dengan kematangan alat reproduksi dan kemampuan wanita sebagai calon ibu  untuk merawat buah hati.

Saat ini banyak media informasi yang bisa didapatkan secara luas tentang menyusui. Namun demikian pemanfaatan informasi yang ada masih dapat dikatakan belum maksimal. Hal hal tersebut bisa disebabkan oleh informasi yang bisa didapat masih belum mudah untuk diakses keterjangkauannya (tidak semua ibu dan keluarga tau dimana sumber informasi tentang menyusui bisa di peroleh).

Lalu bagaimana dengan Peran Pemerintah dalam mendukung pemberian ASI Ekslusif. Undang undang pemerintah yang mengatur ASI Ekslusif. Ibu Menkes Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek, SpM (K) di Kementrian Kesehatan RI menyatakan sampai saat ini, baru ada 15 provinsi dan 514 kabupaten/kota yang memiliki peraturan terkait ASI. Hal tersebut pun dalam pelaksanaannya masih memerlukan observasi lanjutan bagaimana kepatuhan berbagai pihak dalam mendukung keberhasilan menyusui.

Dalam Undang Undang Kesehatan No. 33 Tahun 2012 Pasal 5 Ayat (2) diatur tentang bagaimana peran tenaga kesehatan dalam mendukung proses menyusui. Salah satunya yaitu peran tenaga kesehatan sebagai tenaga konseling menyusui. Sertifikasi sebagai tenaga konseling menyusui bisa tenaga dapatkan setelah mengikuti pelatihan yang telah terstandar nasional. Beberapa Lembaga yang mengadakan pelatihan tenaga konsling menyusui di Indonesia diantaranya Perinasia. Dilembaga Pelatihan ini telah melatih tenaga kesehatan terdiri dari berbagai bidang dan profesionalisme : dokter, bidan ahli gizi dan sebagainya. Dalam Pelatihan ini para konselor yang dilatih menggunakan Modul 40 Jam WHO. Dalam pelatihan ini para konselor dibekali ilmu tentang ASI secara mendalam dan tehnik mengatasi berbagai kendala yang dapat menghambat dalam proses menyusui.

Hasil Penelitian yang pernah dilakukan oleh penulis di Tangerang dengan judul ”The Implementation Of Breasfeeding Counseling On Expectant Mother In Tangerang 2018” didapatkan bahwa terdapat keberhasilan yang tinggi pada proses menyusui awal dari Intervensi Konseling yang dilakukan secara intensif sebanyak 6 kali. Empat kali dilakukan saat Ibu usia kehamilan akhir dan dua kali pada saat bayi sudah lahir.

Kehadiran Tenaga Koseling Menyusui yang terlatih di semua fasilitas kesehatan baik di tingkat dasar maupun lanjutan sangat diperlukan keberadaannya. Untuk dapat memberikan informasi menyusui secara langsung dan berkelanjutan kepada ibu dan keluarga. Namun demikian masyarakat secara umum belum terlalu mengenal tentang apa itu “Konselor Menyusui”. Lewat seorang tenaga Konselor menyusui ibu dan keluarga baik itu ayah atau keluarga lain yang terdekat bisa lebih memahami bagaimana proses menyusui dapat berjalan sesuai yang diharapkan yaitu  diberikan dari usia 0-6 bulan. Konselor Menyusui saat ini sudah dapat di temui di beberapa Klinik Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama. Sebagai contoh dapat di temui di KLINIK PRATAMA AZ-ZAHRA. Beberapa Ibu dan keluarga biasanya menemui Tenaga Konselor setelah terjadi hambatan dalam proses menyusui. Informasi tentang menyusui dapat diberikan dimulai dari ibu dengan usia kehamilan akhir, menjelang persiapan persalinan dan proses awal menyusui.   Dengan ini penting adanya informasi lebih tentang keberadaan Tenaga Konselor Menyusui. Tinggal bagaimana ibu dan keluarga dapat memenfaatkan kehadiran Tenaga Konselor Menyusui. Generasi Sehat Indonesia minumnya ASI. Bayi sehat ya Bayinya ASI…..

MARTHIA IKHLASIAH, SST, MKM 

Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang. 

Mahasiswa Program S3 Kesehatan Masyarakat UNHAS

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.