Petugas dan Alat Ukur BPN Disandra Ormas

  • Whatsapp

TANGERANG, (vivabanten.com) – Pengukuran kembali lahan Fasos Fasum di Mekarsari wilayah RT 02 dan 04 RW 06 Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang terhenti karena petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) dihadang puluhan orang dari salah satu Ormas.

“Pengukuran lahan ini terpaksa kami hentikan karena dihadang puluhan orang dari salah satu Ormas,” ujar Tatang Keswara petugas BPN Kota Tangerang, Rabu (18/10/2017).

Menurut Tatang, penghentian secara paksa oleh Ormas terhadap petugas BPN yang melakukan pengukuran itu bukan hanya menghadang, mereka juga sempat membawa salah seorang petugas BPN bernama Bules beserta alat ukur GPS ke Poskonya di dekat gudang farmasi.

“Kelompok Ormas itu bersikukuh dan keberatan dilakukan pengukuran dengan alasan menunggu hasil pertemuan dengan DPRD Kota Tangerang yang akan dilaksanakan besok, Kamis 19 Oktober 2017,” ucapnya.

Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah pada Satuan Polisi Pamong Praja Kota Tangerang, Kaonang bersama Kanit Intel Polsek Jatiuwung, Ipda Anton Suhartono yang mengawal melaksanaan pengukuran tersebut melakukan dialog persesuasif dengan penasehat hukum kelompok Ormas itu, Usman Umar.

Kaonang mengatakan, berdasarkan rapat koordinasi di Mapolres Tangerang Kota, pada Senin, (16/10/2017) yang dihadiri Kapolres dan unsur terkait, lahan Fasos Fasum dari pengembang Palm Semi disepakati pembongkaran bangunan liar diatas tanah itu yang semula direncanakan pada Rabu (18/10/2017) ditunda menunggu hasil pengukuran ulang yang dilakukan BPN.

“Hari ini BPN melakukan pengukuran. Kami bersama kepolisian mengawal BPN mengukur lahan yang
akan digunakan sekolahan itu. Pelaksanaan di lapangan ternyata ada keberatan pengukuran dari
kelompok Ormas,” kata Kaonang.

Menurut Kaonang, orang BPN dan alat ukurnya disandera Ormas. Padahal kesepakatan saat pertemuan di Polres dilakukan ukur ulang. Ini sangat mencemari dan menodai kesepakatan.

“Atas aksi Ormas terhadap petugas dan menyandra alat ukur BPN yang dibawa ke Posko, kami menunggu tindak lanjut dari Polres,” ucapnya.

Dikatakannya, pengukuran ini agar dapat diketahui lebih jelas oleh Ormas tentang batas lahan Fasos Fasum. Pengembang Palm Semi sudah beli lahan untuk Fasos Fasum dari ahli waris.

“Ini dibutuhkan keputusan konkret karena masyarakat butuh sekolah. Jangan ngaku-ngaku tanpa ada legal standing. Kami sesuai perintah, tidak akan lari dari perintah,” tegas Kaonang.

Sementara itu Kanit Intel Polsek Jatiuwung, Ipda Anton Suhartono mengungkapkan, pihaknya menjemputpetugas dan alat ukur BPN langsung dari Posko ormas.

“Disitu kami bertemu salah seorang pentolan Ormas yang membawa petugas BPN beserta alat ukur dari atas bangunan Puskesmas. Ketika kami akan menjemput pentolan Ormas itu minta surat pernyataan, namun kami tolak,” tegas Anton.

Sementara itu Lurah Panunggangan Barat, Ahyar Herudin menerangkan bahwa kelompok Ormas yang mengusir petugas BPN itu bukan warga diwilayahnya. “Itu kelompok Ormas, bukan warga Panunggangan Barat,” kata Ahyar.(usdo/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.