Revatilisasi Banten Lama, Jauh Dari Pelestarian Cagar Budaya

  • Whatsapp

SERANG, (vivabanten.com) – Tim Kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten lakukan eskavasi pengupasan bagian utara Surosoan Banten.

Pengerjaan pengupasan benda purbakala yang dilakukan sejak beberapa hari lalu tersebut, banyak didapat benda-benda sisa masa kerajaan dalam area bekas alun-alun Surosoan atau tepatnya di depan gedung musium Banten.

Bacaan Lainnya

Menurut Kordinator lapangan Tim eskavasi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, Turmudi mengatakan, eskavasi ini dilakukan guna lakukan penyelamatan benda-benda cagar budaya yang ada di sekitar kawasan Banten Lama.

“Ini dilakukan untuk yang kedua kalinya, sebelumnya kita telah lakukan kajian pada tahun kemarin, namun kajian tersebut dilakukan setelah ada pembangunan, makanya kita lakukan pencegahan berupa penyetopan pembangunan di area yang kita anggap terdapat benda cagar budayanya,” ujar Turmudi.

Di sekitar lokasi ini, jelas Turmudi, ada banyak ditemukan beberapa benda yang diduga peluru dan serpihan serpihan kramik serta gerabah yang diperkirakan peninggalan pada masa kerajaan ming.

“Kalau temuan yang saat ini kita temukan berupa arveble atau artefak, yaitu berupa kramik ada grabah dan ada peluru yang di duga peluru meriam yang banyak sekali. Dan ini kita temukan disekitar dinding utara benteng,” jelasnya.

Lokasi Ini, terang Turmudi, merupakan bagian dari alun-alun Banten Lama dan saat ini sedang dilakukan pengupasan bersama tim hingga 20 hari kedepan guna mencari dan menyelamatkan benda purbakala yang kemungkinan ada.

“Lokasi yang juga di perkirakan sebagai bangunan Srimanganti ini akan kami lakukan eskavasi selama dua puluh hari kedepan. Dan nanti kita akan lihat terdapat apa lagi nanti bangunan atau benda yang kita temukan terkait benteng surosoan yang pada masa kesultanan Banten sejak dipergunakan dan ditinggalkan oleh Kesultanan Banten,” terangnya.

Kegiatan ini, lanjut Turmudi, dilakukan guna lakukan penyelamatan benda-benda cagar budaya yang ada, walaupun memang terlambat. Namun menurutnya dari pada tidak dilakukan, karena ini jika tidak dilakukan nanti akan di babat habis dan di berangus semua, jadi sebenarnya ini langkah penyelamatan benda bersejarah yang ada di Banten Lama.

“Untungnya ini juga kita lakukan penyetopan awalnya, jangan ada pembangunan dulu disekitar sini, memang tadinya telah dilakukan perataan dengan bulldoser, namun kita langsung kordinasikan dengan yang berwenang agar tidak di lakukan pembangunan atau di semen dahulu,” tuturnya.

Turmudi mengakui, sebenarnya dalam pembangun Revatilisasi Banten lama saat ini banyak sekali komplenan dari pemerintah pusat, karena banyak yang tidak sesuai. Dan ini kalaupun ada indikasi ada struktur atau bukti bukti yang ada di atas bangunan revalitilisasi ini benda-benda cagar budaya dan itu harus diselamatkan harus dibongkar.

“Nanti kita lihat struktur yang ada ini, kalau memang mengarah ke bangunan yang baru tersebut ya memang harus dibongkar, karena kalau ga gitu ya abis semua dibangun,” cetusnya.

Turmuji berharap, untuk Revatilisasi ini bertujuan menghidupkan kembali peninggalan dengan melestarikan, maka diharapkan sebisa mungkin dilakukan dengan kaidah kaidah pepelestarian.

“Selama ini kalau dilihat revatilisasi ini memang ada sisi positifnya, intinya bisa diapresiasi masyarakat, tapi untuk pelestarian masih jauh, lantaran masih banyak bahan-bahan yang tidak sesuai, bukan tidak peduli, namun ini adalah suatu kepedulian Pemprof Banten, cuma dalam melakukan revatilisasi ini ada beberapa yang miss seperti konsep marmer yang seharusnya di konsep alun-alun itu tidak ada,” pungkasnya. (pais/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.