Tafsir Tradisi Akademik Dalam Perguruan Tinggi Tafsir Tradisi Akademik Dalam Perguruan Tinggi Belajar Dari Iqro

  • Whatsapp

VIVABANTEN – Konsep tafsir isyari-an ini adalah review orasi ilmiah wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA. ketika penulis mewakili STISNU NUSANTARA Tangerang mengikuti kegiatan pembekalan struktural pegawai dan pimpinan perguruan tinggi Islam swasta di UIN Bandung.

Sepertinya, apa yang disampaikan Prof. Nasar memiliki kesamaan visi-misi dengan STISNU, bahwa Perguruan Tinggi seharusnya tidak terjebak pada lintasan teori pemikiran akademik, melainkan mampu menjadi wasilah al-wushul (sampai) pada derajat kesempurnaan baik secara intelektual ataupun spritual. Sebab itu, tradisi akademik tidak boleh berhenti pada membaca (reading), belajar (ta’lim), penelitian dan pengabdian di masyarakat, akan tetapi mampu menginternalisasi jauh pengkajian ke dalam subtansi ilmu pengetahuan guna menggali eksistensi uluhiyah yang tersamarkan oleh hijab duniawi.

Melirik kembali sejarah turunnya surat al-‘Alaq 1-5 kepada Nabi Muhammad Saw, ketika Jibril mendekap dan memaksa Muhammad Saw untuk membaca, namun menolaknya, “iqro” jawabnya “ma ana bi qori”, bacalah? Aku tidak bisa membaca, sampai tiga kali ia memerintahkan hal itu, lalu seketika itu ia melanjutkan “iqro bismirabbikalladzi khalaq… iqra’ warabbukal akram”. Artinya apa? Kenapa Allah mengawali perintah dengan kata “iqra’” diawal wahyu-Nya? Sementera Muhammad Saw tidak bisa membaca dan menulis. Jika ditelaah maka pada peristiwa tersebut terdapat 5 iqra’ yang disebutkan. Lalu, bagaimana kaitanya tradisi akademik di perguruan tinggi?
Membaca adalah tradisi akademik yang tidak bisa dipisahkan dengan Perguruan Tinggi, apalagi membaca merupakan sumber transformasi ilmu pengetahuan dan membaca dapat membelah dunia. Lalu, apakah proses pembacaan itu bagian dari pemahaman? Bisa jadi, tapi sedikit sekali orang yang membaca mampu memahami atau menginternalisasi lebih jauh, kecuali dipermukaan. Sebut saja al-Qur’an yang sering dibaca, kebanyakan baru bisa dibaca, tapi belum dipahami. Sebab itu, iqra pertama adalah isyarah how to read/ bagaimana kita membaca.

Pada tingkatan iqra kedua, seharusnya mampu memahami setiap bacaan secara mendalam, how to learn atau how to thinks, dengan menggali cantuman makna setiap teks, sehingga mampu melahirkan banyak teori-teori akademik. Pada pembacaan ini, akal seringkali melanglang buana dalam menelusuri jalur tekstual yang membentuk opini pemikiran liberal, radikal, fundamental, sekuler, dan lain sebagainya untuk menggali makna dalam bentuk pemahaman (fiqh). Dominasi akal menjadi kebanggaan karena melahirkan pengetahuan baru atau merekonstruksi yang sudah ada.

Kemudian, iqra’ ketiga, yaitu pembacaan sebagai proses pensucian jiwa-raga dari kotoran (at-tazkiyah) yang mendera kalbu manusia. Dunia akademik seringkali mendewakan akal, menjadikan pengetahuan adalah segalanya. Padahal akal banyak menepikan ketenangan bathin, banyak berfikir akan membuat was-was, dan hati tidak tenang, akhirnya kenikmatan semu dalam angan-angan. Betapa tidak, rakyat kecil yang penuh spiritual di pedesaan bisa hidup santai, apa adanya, tenang tanpa beban pikiran serta keinginan meraup duniawi lebih karena kekuranganya, berbeda dengan kaum intelektual, pengusaha, pejabat, atau orang kaya yang kosong spritual maka bisa jadi hari-harinya dipusingkan dengan kegiatan, bathin mengganjal, waktu yang sempit dan tidur tidak nyaman. Sebab itu, intelektualitas, kekuasaan dan kekayaan harus menjadi jalan pensucian jiwa-raga, mendalami makna ayat-ayat penciptaan (kauniyah) sebagai manifestasi ketaqwaan, karena kesucian adalah landasan dasar lahirnya sebuah hikmah. Maka, jangan heran jika manusia yang suci dapat berpetualang pengetahuanya lintas dunia tanpa harus belajar dan membaca (ilmu ladunni), seperti halnya Muhammad Saw, seorang yang tidak bisa membaca dan menulis tetapi bisa menjelaskan kejadian-kejadian sejarah di masa lampau, atau mengetahui isi kitab-kitab samawi sebelum al-Qur’an. Begitu juga dengan guru ngaji penulis di Buntet Pesantren Cirebon, Kyai Fuad Hasyim yang tidak mengenyam bangku sekolahan tapi mengisi ceramah ilmiah menggunakan bahasa asing di ANU University, Oxford, dan masih banyak lagi.

Iqra keempat adalah mukasyafah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Artinya, pembaca pada fase ini akan terbuka hijab uluhiyah. Pembacaan semata-mata menggali eksistensi Tuhan dalam konstruks ilmiah, sebab itu meneliti tidak sekedar menggali ilmu pengetahuan akan tetapi wujud interaksi akademik dengan Tuhan, mendalami dan memahami potensi akademik ruhaniyah. Maka wajar, orang yang sudah mukasyafah berhubungan baik dengan alam, binatang, dan manusia. Seakan ada komunikasi aneh yang terbangun di antara keduanya dibalik penghormatan; atau bisa jadi terlihat madzub (orang gila) yang menurut iqra kedua bertolak belakang.

Terakhir, iqra kelima adalah fase muwahhadah, pembacaan bersatu dengan Tuhan. Pembacaan yang mampu menginternalisasi segala penciptaan di alam semesta menyatu dalam jiwa-raga pembaca, menggali segala eksistensi yang tersembunyi di balik penciptaan, Tuhan adalah realitas tersembunyi. Jika Syeikh Siti Jenar menganggap dirinya Tuhan, maka sesungguhnya ia sedang menyatu bersama Tuhan, dalam jiwa, raga serta kehidupanya bersama dan sedang mengagungkan Tuhan “iqro wa rabbukal akram”. Potensi uluhiyah hanya diperoleh bagi orang yang mampu melepaskan nafsu bahimiyah (binatang melata), siba’iyah (binatang buas), dan syaithoniyah (iblis) dalam jiwa-raga hanya untuk Tuhan.

Kaitannya tafsir iqra’ dengan tradis akademik adalah perguruan tinggi tidak hanya melahirkan ahli fikir, tetapi pula ahli dzikir sebagai ejawantah mencetak genarasi shaleh bangsa di masa depan. Dengan kata lain, mampu melahirkan generasi intelektual yang spritualis  atau spritual yang intelektualis, mampu menjembatani tradisi akal menjadi tradisi hati yang diterapkan dalam instrument akademik, karena tradisi akal akan berhenti ketika mendapati kejenuhan berpikir, namun tradisi hati akan penuh terisi terus jika diisi nutrisi dzikir. Sebab itu, fikir dan dzikir haruslah berjalan selaras dalam menciptakan tradisi akademik di Perguruan Tinggi. Pada dasarnya, hal ini sudah diterapkan STISNU NUSANTARA Tangerang, memformulasikan tradisi pesantren dalam konstruksi matakuliah, yaitu Ijazah dan Awradul Basyariah. Tujuanya untuk membentengi spritualitas mahasiswa yang saat ini banyak digrogoti oleh gemerlapnya dunia modern, setidaknya menjadi bekal spritual mahasiswa dalam mengisi lobang-lobang kosong dalam membangun negeri.

Nama : H. Muhamad Qustulani, MA.Hum

TTL : Tangerang, 22 Januari 1987

Jabatan : Wakil Ketua STISNU NUSANTARA Tangerang

  • Whatsapp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.