Tantangan Dan Peluang Dosen, Pengajar Di Perguruan Tinggi Kesehatan Menghadapi Transisi Generasi Millenial Di Indonesia

  • Whatsapp

Oleh :
Ns. Asmawati, S.Kep, M. Kep
Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Hasanuddin Makassar/Dosen STIKes Alifah Padang Sumatera Barat.

 

Generasi millenial? Kata ini tidak asing lagi ditelinga kita.

Generasi Millennial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan di dunia diberbagai bidang, apa dan siapa gerangan generasi millennial itu?. Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980-an sampai 2000-an sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun. Millennials sendiri dianggap “spesial” karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Mereka juga adalah orang-orang dengan usia produktif sekaligus konsumen yang mendominasi pasar saat ini. Konsumsi internet penduduk kelompok usia 15 – 34 tahun juga jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok penduduk yang usianya lebih tua. Hal ini menunjukkan ketergantungan mereka terhadap koneksi internet sangat tinggi.

Millennial adalah satu-satunya generasi yang disebut “Digital Native” lahir dan tumbuh berbarengan dengan teknologi (Prensky, 2001). Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millennial belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka.

Tidak berhenti disitu, generasi millennial juga cenderung cuek dan rendah akan nilai kepedulian sosial, kebanyakan dari generasi millennial hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya, ditambah lagi dengan kecanggihan teknologi membuat mereka malas untuk melakukan interaksi di dunia nyata. Para generasi sekarang lebih senang berinteraksi di sosial media. Eksistensi dan hidup penuh gaya menjadi tren gaya hidup generasi millennial, eksistensi sosial ditentukan dari jumlah follower dan like.

Pengaruh Generasi Millenial di Perguruan Tinggi Kesehatan

Perlu kesiapan Infrastuktur Teknologi Kesehatan: Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Sejauh mana pengaruh Kehadiran Calon Mahasiswa  atau Mahasiswa  sebagai pelanggan  dari generasi Millenial terhadap Entreprice TIK yang ada, termasuk sarana dan prasarana Laboratorium Dasar, Laboratorium khusus, Perpustakaan dan pendukung Teknologi lainnya yang akan menjadi Impresi awal saat pertama kali diperkenalkan dengan dunia kampus. Kesiapan Tenaga Dosen dan Pengajar untuk Mendidik mahasiswa di masa lalu berbeda dengan di masa sekarang. Perkembangan zaman dan teknologi menjadi salah satu penyebabnya. Saat ini, kalangan mahasiswa merupakan generasi millennial. Sedangkan para pendidik merupakan generasi X. Gap tersebut kerap membuat tidak selarasnya proses pembelajaran di kelas, generasi millennial lebih suka dosen, pengajar yang memberi teladan, sebagai mentor di Perguruan Tinggi. Perguruan Tinggi dalam mencapai kesuksesan, perlu memperhatikan kualitas lulusannya. Kesuksesan sebuah negara dalam menghadapi revolusi industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga Perguruan Tinggi wajib dapat menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia kerja.

Beberapa hal yang perlu disesuaikan dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi Kesehatan adalah:

Mahasiswa kesehatan Generasi millennial itu melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan. Kalau tidak suka, mereka tidak mau melaksanakan, Oleh sebab itu di dunia kerja ketika tidak cocok mereka pilih resign. Begitu juga bila di kelas. Kalau mereka tidak suka atau terlalu banyak teori akhirnya malas. Pembelajaran di laboratorium perlu penataan yang lebih optimal, untuk itu dosen dan pengajar harus mampu menyesuaikan sifat para mahasiswanya, mahasiswa saat ini tidak bisa dipaksa untuk menuruti semua arahannya. Para dosen harus menemukan cara untuk membuat mahasiswa suka dengan apa yang diajarkannya. Kurikulum dan Mata Kuliah harus beradaptasi dan implementasinya dengan dunia kerja, untuk menambah wawasan dan keterampilan mahasiswa kesehatan sehingga saat terserap di beberapa pelayanan kesehatan, instansi tersebut tidak lagi mengeluarkan biaya tambahan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan. Rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi kesehatan yang responsif juga diperlukan, seperti desain ulang kurikulum dengan keahlian berbasis digital

Berikan ruang kerja mahasiswa yang lebih nyaman karena membuat mereka betah di kampus hal ini akan menumbuhkan semangat dalam bekerja dan lebih produktif. Generasi millennial yang terbiasa hidup dengan kemudahan digital, perlu juga didukung dengan fasilitas kekinian dari Perguruan Tinggi Kesehatan  misalnya  layanan yang memberi kemudahan akses langsung dari gadget pribadinya.Sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi, diperlukan penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi informasi, internet, analisis big data dan komputerisasi. Perguruan tinggi yang menyediakan infrastruktur pembelajaran tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia. Terobosan inovasi akan berujung pada peningkatan produktivitas berbasis teknologi, seperti yang banyak bermunculan di Indonesia saat ini.

Sebagai saran diperlukan kesiapan Perguruan Tinggi Kesehatan dan civitas akademik dalam menghadapi era perubahan generasi. Setelah era transisi generasi “X”, “Y” perlu mempersiapkan ke generasi “Z” ini tantangan. Perguruan Tinggi kesehatan harus mampu meningkatkan daya saing terhadap kompetitor dan daya tarik bagi calon mahasiswa. Berbagai tantangan sudah hadir di depan mata, sudah siap kah Perguruan Tinggi Kesehatan menyiapkan generasi penerus bangsa di era Revolusi Industri 4.0 dan persaingan global?

Terinspirasi dari penulis Hendra Triana: Sekretaris Jendral pada KIRM-Komite Independen Revolusi Mental Indonesia.

www.ristekdikti.go.id

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.