Warga Jombang Tutup Akses Proyek Tol Kunciran – Serpong

  • Whatsapp
BLOKIR JALAN : Sejumlah warga RW Kelurahan Jombang Kecamatan Ciputat, Tangsel saat menutup akses proyek jalan tol. (FOTO : DIAZ/VIVABANTEN.COM)
BLOKIR JALAN : Sejumlah warga RW Kelurahan Jombang Kecamatan Ciputat, Tangsel saat menutup akses proyek jalan tol. (FOTO : DIAZ/VIVABANTEN.COM)

 

>>Tuntut Dipekerjakan Warga Sekitar

TANGSEL, (vivabanten.com) – Belasan pemuda yang mengatasnamakan Karang Taruna RW 10 Kelurahan Jombang Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, melakukan aksi penutupan akses jalan di lokasi proyek pembangunan tol Kunciran-Serpong tahap 2.

Aksi para pemuda ini diduga sebagai wujud protes, karena mereka tidak diberdayakan sebagai pekerja di proyek milik PT. Marga Trans Nusantara (MTN) anak perusahaan dari PT. Jasa Marga melalui Pelaksana proyek KSO (Kerja Sama Operasional) PT Acset Indonusa Tbk dan PT. Adhi Karya.

Ketua Karang Taruna RW 10 Kelurahan Jombang, Abe Mulyana Rabu, (26/7) mengatakan, dirinya bersama rekan pemuda lainnya melakukan protes untuk menyampaikan aspirasi dan meminta pihak pelaksana proyek untuk memperkerjakan para pemuda disekitar proyek.

Menurutnya, pelaksana proyek tol Kunciran – Serpong dalam setiap melakukan sosialisasi selalu menjanjikan akan memberdayakan warga sekitar proyek untuk bisa ikut bekerja.

“Kita tunggu dan menanti terus hingga saat ini belum warga kami yang dipekerjakan, sedangkan dampak dari proyek ini seperti bising, debu sangat dirasakan warga,” ujar Abe kepada wartawan vivabanten.com.

Abe menjelaskan, penutupan jalan yang dilakukan pemilik tanah harus ada kompensasinya dengan mencarikan jalan pengganti untuk warga bisa melewatinya, tapi hingga kini pihak pelaksana proyek belum mencarikan solusinya.

“Aksi penutupan jalan warga ini dilakukan oleh pemilik tanah sendiri, bukan dari Karang Taruna. Kami berharap kebersamaan tetap terjaga antara warga yang tanahnya sudah dibayar dan yang belum dibayar,” ucapnya.

MEDIASI : Pelaksana proyek dari KSO Project, Raja Mutia saat melakukan mediasi dengan warga dan para pemuda Karang Taruna. (FOTO : DIAZ/VIVABANTEN.COM)

Sementara itu, Marsan (47) dan H. Markum (57) pemilik tanah merasa kecewa, karena lahan mereka yang terkena proyek jalan tol tersebut belum dibayarkan. “Ini kan aneh, berkali-kali kami klarifikasi ke kantor BPN, jawaban tidak pernah sama,” cetusnya dengan nada kesal.

Kedua pemilik tanah tersebut, meminta agar pelaksana proyek memberikan hak kepadanya dan memberikan tenggang waktu seminggu untuk menyelesaikannya.

“Jika dalam dalam waktu seminggu tidak ada penyelesaian, maka saya akan akses jalan. Jangan salahkan kami, jika selama ini hanya sering mendapat janji-janji dengan berbagai alasan, kita kecewa,” tegas keduanya.

Perwakilan pelaksana proyek yang diwakili, KSO Project, Raja Mutia mengungkapkan, pihaknya berjanji akan memberdayakan warga sekitar untuk bisa bekerja di proyek tersebut, tapi setelah proses tahapan striping selesai.

“Saat ini kita masih dalam tahapan striping, kita akan memberdayakan mereka setelah pengerjaan struktur berjalan, Insy Allah mulai minggu depan atau sepuluh hari kedepan kita akan berdayakan masyarakat sekitar,” kata Mutia.

Terkait warga yang menuntut tanah segera dibayar itu merupakan hal yang biasa. “Masalah lain tidak ada, ini hal biasa dan sudah menjadi tradisi ada lahan yang belum terbebaskan tapi belum dibayar. Pembebasan sebagian tanah ini lagi kita proses, akhir Juli mudah-mudahan sudah selesai semua,” pungkasnya. (diaz/jojo)

  • Whatsapp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.