Warga Kecamatan Benda Ancam Proses Pembangunan Tol

  • Whatsapp

TANGERANG, (vivabanten.com) – Sekelumit permasalahan masih saja belum dituntaskan dalam proyek pembangunan Jalan Tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta, Tangerang.

Warga Kota Tangerang di Kecamatan Benda ramai-ramai mengancam proses pembangunan nasional tersebut. Mereka menggelar demo menolak angka ganti rugi pembebasan lahan terkait proyek ini.

Bacaan Lainnya

Masyarakat turun ke jalan dan menuntut, agar pemerintah punya hati nurani dalam proses pembayaran penggusuran itu.

Camat Benda, Teddy Roestandi mengatakan pihaknya, membenarkan banyak warganya yang menuntut uang ganti rugi dalam pembebasan lahan. Rumah mereka tergusur dibangun Jalan Tol Kunciran-Bandara Soetta.

“Ada 82 pemilik bidang yang keberatan dengan tim apraisal yang menentukan harga pembebasan lahan tersebut,” ujar Teddy Kamis (13/06).

Menurut Teddy, warganya sampai ke proses Pengadialan Negeri (PN) Tangerang untuk menyuarakan keberatannya ini. Bahkan hingga ke jalur Mahkamah Agung.

“Harga pembebasan lahannya bervariasi tidak dipukul rata,” ucapnya.

Warga ada yang dibayar Rp1,8 juta per meternya dan ada pula yang Rp2,6 juta per meternya. Menurut Teddy, penentuan harga itu sendiri merupakan kewenangan tim apraisal.

“Kami nantinya akan mencoba menggelar mediasi. Saya sudah bersurat ke Kementerian PUPR dan juga Jasa Marga terkait hal ini,” kata Teddy.

Teddy berharap dengan mediasi ini, ada pencerahan bagi masyarakat. Dan tentunya proses pembangunan Jalan Tol Kunciran-Bandara Soetta berlangsung kondusif serta terlaksana dengan baik.

Untuk diketahui, Masyarakat RT 02/RW 01 Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang tersulut emosi dengan proyek pembangunan Jalan Tol Kunciran-Bandara Soetta. Mereka menuntut keadilan pembebasan lahan.

Edi Mulyadi (45) satu dari warga setempat menjelaskan bahwa pihaknya meminta kepada pemerintah untuk diajak berdiskusi. Sebab menurutnya dari jajaran pemerintah tidak pernah mau menemui warga dari tahun 2016 semenjak proyek ini baru dimulai.

“Kami sama sekali tidak diajak musyawarah dengan pemerintah mengenai pembangunan jalan tol ini,” ungkap Edi tampak emosi.

Dirinya menerangkan masyarakat yang terkena dampak pembangunan proyek tersebut akan mengancam untuk bertahan. Dan tidak mau rumahnya digusur dibangun Jalan Tol Kunciran-Bandara Soetta.

“Kami bertahan sampai ada titik terang,” tuturnya.

Warga berharap agar pemerintah lebih memerhatikan nasib kaum kecil ini. Proses pembebasan lahan harusnya lebih manusiawi.

“Kami ditawarkan oleh pemerintah Rp. 2,6 juta per meternya dalam pembebasan lahan ini. Tolong lah manusiakan kami. Kami minta ganti rugi yang layak. Kalau dibayarnya segitu mana bisa kebeli rumah lagi,” papar Edi.(cng/jojo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.