KOTA TANGERANG (Vivabanten.com) – Pemerintah Kota Tangerang menyiapkan intervensi terpadu untuk memastikan anak yang tidak sekolah kembali mendapatkan akses pendidikan.
Program tersebut melibatkan sejumlah perangkat daerah dan unsur kewilayahan, mulai dari sekolah, kelurahan, kecamatan hingga instansi yang menangani administrasi kependudukan, perlindungan anak, dan kesejahteraan sosial.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Wahyudi Iskandar mengatakan, berdasarkan pembaruan data hingga Juni 2026, masih terdapat anak yang masuk kategori anak tidak sekolah (ATS). Data tersebut telah melalui proses verifikasi dan validasi untuk menentukan sasaran intervensi.
“Selain penguatan data, Pemkot Tangerang juga menyiapkan tim penanganan lintas sektor. Tim tersebut akan melibatkan sejumlah perangkat daerah dan unsur kewilayahan agar penanganan tidak hanya dilakukan dari sisi pendidikan, tetapi juga dapat menyentuh faktor sosial, administrasi kependudukan, perlindungan anak, hingga kondisi keluarga,” ujar Wahyudi, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, langkah awal dilakukan dengan menyinkronkan data pendidikan dengan data pokok pendidikan dan pusat data pendidikan. Sinkronisasi tersebut diperlukan untuk memastikan identitas dan alamat anak yang masuk dalam data ATS dapat diverifikasi secara akurat.
Verifikasi juga akan diperkuat di tingkat wilayah dengan melibatkan operator sekolah, kelurahan, dan kecamatan. Petugas akan memastikan kondisi anak di lapangan sekaligus memperbarui data berdasarkan hasil temuan.
Wahyudi mengatakan intervensi terhadap anak dan keluarga akan dilakukan melalui kunjungan langsung atau home visit. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah memahami alasan anak tidak melanjutkan pendidikan sekaligus memberikan informasi mengenai pilihan pendidikan yang tersedia.
“Dari sisi akses pendidikan, intervensi akan dilakukan melalui program home visit bersama perangkat kewilayahan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu memberikan edukasi kepada keluarga sekaligus memahami kendala yang membuat anak tidak melanjutkan pendidikan,” katanya.
Selain menangani anak yang sudah tidak bersekolah, Pemkot Tangerang menyiapkan langkah pencegahan terhadap anak yang berisiko berhenti sekolah, terutama saat transisi dari jenjang SD ke SMP.
Sejumlah program akan dioptimalkan, antara lain sekolah gratis, Tangerang Cerdas, serta pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dengan program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Upaya tersebut juga disertai peningkatan kualitas lingkungan belajar melalui penerapan pembelajaran mendalam, pembiasaan positif melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta penguatan sekolah ramah anak.
Pemkot Tangerang juga menyiapkan dashboard monitoring terpadu dengan memadankan data pendidikan, administrasi kependudukan, dan kesejahteraan sosial. Sistem tersebut akan digunakan sebagai dasar menentukan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Wahyudi menegaskan penanganan anak tidak sekolah membutuhkan kerja sama lintas sektor dan pemantauan berkelanjutan.
“Penanganan ATS ini tidak bisa dilakukan sendirian. Pemkot Tangerang akan terus melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak pendidikan dan mencegah munculnya kasus baru,” ujarnya.(man/joe)
