Tak Perlu Pulang, Rasa Kampung Halaman Ada di Summarecon Serpong

Tak Perlu Pulang, Rasa Kampung Halaman Ada di Serpong

Oleh:
Jojo Sudirjo
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Vivabanten.com

KAB. TANGERANG (Vivabanten.com) – Sekilas, tidak ada yang istimewa dari area parkir di sisi timur Summarecon Mall Serpong (SMS) pada sebuah sore.

Deretan mobil yang biasanya memenuhi kawasan itu berganti dengan puluhan stan kuliner. Aroma rempah menguar dari berbagai penjuru. Para pedagang sibuk melayani pembeli, sementara pengunjung berjalan dari satu stan ke stan lainnya, mencari makanan yang menggugah selera.

Sebuah gerbang dengan atap menjulang menyerupai bentuk gonjong berdiri menyambut pengunjung. Ornamen bernuansa Minangkabau menghiasi bagian depan gerbang. Dari kejauhan, bentuknya seperti pintu menuju sebuah negeri di masa lalu.

Namun, begitu melewati gerbang itu, yang menyambut bukan istana.

Tapi keramaian, para pedagang yang sibuk menawarkan makanan. Pengunjung lalu-lalang membawa hidangan. Meja dan kursi mulai dipenuhi keluarga yang datang untuk menikmati makan malam bersama.

Ada pempek Palembang, rendang dan aneka sajian Padang, kuliner Lampung, makanan khas Medan hingga mi Aceh.

Ketika malam mulai turun, gemerlap cahaya lampu membuat kawasan itu semakin semarak. Cahaya dari berbagai sudut berpadu dengan aroma masakan yang mengepul dari stan para pedagang.

Makan malam pun terasa berbeda.

Di satu meja, sebuah keluarga menikmati hidangan sambil bercengkerama. Di meja lain, sekelompok anak muda tertawa menikmati makanan yang mereka pilih. Dari panggung utama terdengar alunan musik yang mengisi ruang di antara keramaian.

Cahaya lampu, makanan, keluarga, dan musik berpadu menjadi satu suasana yang membuat pengunjung tidak sekadar datang untuk makan, tetapi juga menikmati malam.

Di tempat itu, Sumatera seolah dipindahkan ke Serpong.

Tidak ada pesawat yang harus dinaiki. Tidak perlu menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai ke kampung halaman.

Cukup melewati sebuah gerbang bernuansa Minangkabau, lalu membiarkan aroma rempah menuntun langkah menuju berbagai rasa yang datang dari penjuru Sumatera.

Itulah Festival Kuliner Serpong (FKS) 2026 yang tahun ini mengusung tema “Satu Jalur Seribu Rasa – Lintas Sumatera”.

Festival yang memasuki penyelenggaraan ke-14 tersebut berlangsung pada 13 Agustus hingga 13 September 2026 di Area Parkir Timur SMS. Sejak pertama kali digelar pada 2011, FKS konsisten menghadirkan kekayaan kuliner Nusantara dalam satu kawasan.

Tahun ini, perjalanan rasa itu membawa pengunjung mengenal kuliner dari Lampung, Palembang, Padang, Medan hingga Aceh.

Sebanyak 13 tenant memperoleh label “Autentik”, yakni tenant yang menyajikan makanan khas dan berasal langsung dari daerah asalnya di Sumatera.

Dari Lampung hadir Bakso Son Haji Sony dan Mie Koga.

Palembang membawa sejumlah kuliner yang telah dikenal, seperti Pempek Beringin Palembang sejak 1970 & oleh-oleh Beringin, Es Kacang Merah Asuk Koboy, Mie Celor 26 Ilir H. M. Syafei Z, serta Bakmi Aloi.

Dari Padang, pengunjung dapat menemukan Teh Talua Malimpah Mak Datuak, Kripik Balado dan Rendang & Dendeng Christine Hakim Asli Padang, Martabak & Roti Cane Kubang Hayuda, Nasi Goreng & Mie Goreng Kubang Hayuda, serta Sate Mak Syukur Padang Pandjang.

Pilihan lainnya masih berderet. Ada Sate Padang Pariaman Putra Koto, Soto Padang & Mie Tahu Uni Vina, Lamang Tapai Uni Dewi, Si Paling Si Padang Keliling, Pisang Kapik dan Pisang Santan Sutan Muda.

Dari Medan hadir Kede Cesku, Mie Keriting Siantar Alai dan Martabak Piring Medan Bang Naga. Sementara Mie Aceh Seulawah membawa cita rasa Aceh ke Serpong.

Namun, di antara banyaknya nama makanan tersebut, ada sesuatu yang tidak tercantum dalam daftar menu: cerita orang-orang yang membuat rasa itu tetap hidup.

Salah satunya Uda Pay, pemilik Cindua Winata – Cendol Ampiang Durian Minang.

Di stan miliknya, pengunjung dapat memilih beberapa varian. Ada Cindua Original seharga Rp20.000, Cindua Ampiang Ketan Rp25.000, Cindua Durian Rp30.000, hingga Cindua Spesial Langkok Durian seharga Rp35.000.

Bagi Uda Pay, terpilih menjadi bagian dari FKS bukan perkara mudah. Para pedagang harus melewati proses seleksi. Dari empat pedagang cendol yang mengikuti seleksi, dirinya menjadi salah satu yang terpilih.

“Saya sangat senang bisa terpilih dan mewakili tempat asal saya untuk berjualan di Festival Kuliner Serpong. Untuk bisa sejajar dengan para pengusaha kuliner lainnya bukan hal yang mudah karena sebelumnya ada proses seleksi. Dari empat pedagang cendol, Alhamdulillah saya bisa terpilih,” ujar Uda Pay.

Menjaga rasa kampung halaman ternyata tidak cukup hanya dengan membawa resep.

Sejumlah bahan harus didatangkan langsung dari kampung halaman, termasuk padi ketan muda untuk bahan ampiyang dan gula aren.

Bahan-bahan tersebut dipertahankan untuk menjaga cita rasa yang menjadi ciri khas produk yang dibawanya.

Upaya itu mendapat respons cukup baik dari pengunjung. Pada hari kerja, penjualan Cindua Winata mencapai sekitar 70–80 cup. Saat akhir pekan, jumlahnya dapat meningkat hingga 100–150 cup.

“Saya harus mendatangkan bahan-bahan dari kampung sendiri seperti padi ketan muda untuk bahan ampiyang dan gula aren. Alhamdulillah untuk weekday bisa 70–80 cup, sementara weekend bisa mencapai 100–150 cup,” katanya.

Di balik angka penjualan itu, ada sebuah perjalanan kecil: makanan dari kampung yang bertemu dengan lidah orang-orang dari daerah lain.

Cerita serupa datang dari Doni, pedagang Lamang Tapai Uni Dewi.

Di stan ini, pengunjung dapat menikmati Lamang Potongan Ketan Putih, Ketan Hitam maupun Pisang yang masing-masing dibanderol Rp25.000. Ada pula Lamang Porsian dengan Tapai seharga Rp35.000 dan Lamang Porsian Vla Durian seharga Rp45.000.

Bagi pengunjung yang ingin membawa pulang dalam jumlah lebih banyak, tersedia Lamang 1 Bambu dengan pilihan Ketan Putih, Ketan Hitam dan Pisang. Masing-masing dibanderol Rp120.000.

Bagi Doni, kehadiran Lamang Tapai di FKS bukan sekadar kesempatan berdagang. Ia ingin makanan yang akrab bagi masyarakat Sumatera itu semakin dikenal oleh masyarakat Jawa.

“Di Sumatera mungkin makan lemang itu biasa, tetapi di Pulau Jawa mungkin jarang makan lemang. Saya ingin makanan khas Sumatera bisa juga dinikmati oleh orang Pulau Jawa,” kata Doni.

Lamang kemudian tidak hanya menjadi makanan yang dijual. Ia menjadi cara Doni memperkenalkan kampung halamannya kepada orang-orang yang mungkin belum pernah mencicipinya.

Makanan menyeberangi pulau. Rasa berpindah dari satu meja ke meja lainnya. Dan tanpa banyak kata, sebuah hidangan memperkenalkan dari mana ia berasal.

Namun, bagi sebagian pengunjung, makanan khas Sumatera yang hadir di Serpong bukan sekadar sesuatu untuk mengisi perut.

Ada kenangan yang ikut tersaji di dalamnya.

Muhamad Rafi, pengunjung asal Kota Padang yang sudah tinggal dan menetap di Tangerang, datang dengan antusiasme yang berbeda. Sudah empat tahun dirinya tidak pulang ke kampung halaman.

Karena itu, ketika menemukan makanan yang akrab dengan lidahnya di tengah Festival Kuliner Serpong, ada kerinduan yang ikut terobati.

“Saya sangat antusias karena bisa menikmati masakan khas kampung halaman. Saya sudah tidak pulang selama empat tahun. Jadi, untuk mengobati rasa kangen kampung halaman, saya berkunjung ke Festival Kuliner Serpong ini karena masakan khas Padang yang bisa saya makan ada di sini, seperti Lamang Tapai, Cindua Winata, dan masih banyak lagi makanan khas Sumatera lainnya,” kata Rafi.

Empat tahun adalah waktu yang panjang bagi seseorang yang merindukan rumah.

Namun malam itu, sebuah makanan mampu menghadirkan kembali sesuatu yang jauh.

Mungkin bukan kampung halamannya secara utuh. Bukan pula rumah, keluarga, atau jalan yang pernah dilewati.

Tetapi setidaknya ada rasa yang familiar.

Dan terkadang, rasa adalah cara paling sederhana bagi seseorang untuk mengingat dari mana ia berasal.

Bagi para penikmat masakan khas kampung halaman yang sedang berada jauh dari daerah asal, FKS seakan menawarkan sebuah pilihan lain.

Tak selalu harus mengeluarkan biaya besar dan menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke kampung halaman hanya demi melepas rindu pada makanan yang sudah lama tidak disantap.

Cukup datang ke Festival Kuliner Serpong.

Dengan harga mulai dari puluhan ribu rupiah, pengunjung dapat menikmati makanan yang membawa nama dan rasa dari berbagai daerah di Sumatera. Di tempat ini, kerinduan terhadap kampung halaman bisa sedikit terobati, meski jarak ratusan kilometer tetap membentang.

FKS 2026 juga tidak hanya mengandalkan makanan.

Penyelenggara menghadirkan dekorasi tematik yang membawa suasana Sumatera ke tengah kawasan SMS. Miniatur Jam Gadang, rumah adat, hingga dekorasi 3D tipografi menjadi bagian dari perjalanan visual pengunjung.

Ketika malam semakin larut, kawasan festival justru semakin hidup.

Cahaya lampu memantul di antara deretan stan. Aroma makanan masih menguar dari dapur-dapur kecil para pedagang. Di meja-meja makan, keluarga masih bercengkerama, sementara sebagian pengunjung memilih duduk lebih lama menikmati makanan dan alunan musik dari panggung utama.

Sejumlah musisi Tanah Air dijadwalkan tampil selama penyelenggaraan FKS 2026, antara lain Geisha, RNB Trio, Vierratale, Ovhi Firsty, Adrian Khalif, Rany Simbolon hingga Barasuara. Barasuara dijadwalkan tampil pada 13 September 2026 sekaligus menjadi penutup rangkaian festival.

Selain pertunjukan musik, terdapat tari tradisional, parade budaya, eating & cooking competition, penampilan Rhapsody Music Center, serta live music sepanjang penyelenggaraan.

Di balik konsep “Satu Jalur Seribu Rasa – Lintas Sumatera”, FKS tidak hanya menghadirkan makanan dari berbagai daerah. Festival ini juga menjadi ruang bagi para pelaku kuliner untuk membawa identitas daerah asal mereka bertemu dengan masyarakat yang lebih luas.

Center Director Summarecon Mall Serpong, Finnah Ngadio, mengatakan penyelenggaraan FKS diharapkan tidak hanya menjadi tempat menikmati beragam cita rasa, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku UKM untuk berkembang.

“Memasuki penyelenggaraan ke-14, kami berharap FKS tidak hanya menjadi festival yang menghadirkan beragam cita rasa, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan pelaku kuliner dengan masyarakat, sekaligus membuka ruang tumbuh bagi UKM yang memiliki semangat yang sama untuk menjaga dan melestarikan kekayaan kuliner Tanah Air,” ujar Finnah.

Malam semakin larut.

Lampu-lampu masih menyala. Musik masih terdengar. Aroma masakan masih mengambang di udara. Di meja-meja makan, keluarga dan pengunjung masih menikmati hidangan mereka.

Ada yang datang untuk mencoba makanan baru.

Ada yang datang bersama keluarga.

Ada pedagang yang datang membawa rasa dari kampung halaman.

Dan ada pula seseorang seperti Rafi, yang datang karena empat tahun belum sempat pulang.

Pada akhirnya, mungkin itulah kekuatan sebuah makanan.

Ia tidak hanya menghubungkan lidah dengan rasa, tetapi juga menghubungkan manusia dengan kenangan.

Di Festival Kuliner Serpong, Sumatera tidak hanya disajikan dalam piring.

Ia hadir melalui tangan para penjaga rasa, melalui cerita para pedagang, melalui kerinduan para pengunjung, dan melalui sebuah malam yang mempertemukan banyak orang dalam satu kawasan.

Bagi mereka yang rindu kampung halaman, mungkin tidak perlu selalu menunggu waktu dan biaya untuk pulang.

Kadang, rasa pulang bisa ditemukan lebih dekat.

Cukup melewati gerbang bernuansa Minangkabau, duduk bersama keluarga, menikmati seporsi Lamang Tapai atau semangkuk Cindua Winata, lalu membiarkan alunan musik dan cahaya malam menemani.

Di sana, untuk sesaat, jarak antara Serpong dan kampung halaman terasa tidak lagi terlalu jauh.

Satu jalur. Seribu rasa. Dan di antara gemerlap cahaya malam itu, ada begitu banyak cerita yang akhirnya menemukan tempat untuk pulang.

Festival Kuliner Serpong 2026 berlangsung hingga 13 September 2026 di Area Parkir Timur Summarecon Mall Serpong.(*)

Pos terkait