KOTA TANGERANG (VivaBanten.com) – Pemerintah Kota Tangerang merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 dengan menghadirkan rangkaian kegiatan yang menekankan nilai kebersamaan, budaya, dan spiritualitas. Dua agenda besar, yakni Tangerang Berselawat dan Tangerang Ngebesan 2026, menjadi simbol perayaan kota yang inklusif dan menyatukan seluruh lapisan masyarakat.
Rabu (11/2/2026) malam, puluhan ribu jemaah memadati Taman Elektrik, Pusat Pemerintahan Kota Tangerang, dalam gelaran Tangerang Berselawat 2026. Warga dari berbagai wilayah di Kota Tangerang hingga luar daerah larut dalam lantunan selawat yang dipimpin grup Az Zahir dan Habib Ali Zaenal Abidin bin Assegaf dari Pekalongan. Acara tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Tangerang TV.
Wali Kota Tangerang H. Sachrudin mengatakan, peringatan hari jadi kota bukan semata seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat batin dan kebersamaan warga.
“Kemajuan kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kerukunan warganya, akhlak yang baik, dan kepedulian sosial. Selawat menjadi pengingat agar langkah pembangunan tetap dilandasi niat yang bersih,” ujar Sachrudin.
Ia mengajak masyarakat menjadikan momen tersebut sebagai persiapan spiritual menjelang Ramadan, seraya berharap kebersamaan dalam doa membawa keberkahan bagi kota.
Habib Ali dalam tausiyahnya turut mendoakan agar Kota Tangerang terus berkembang, tidak hanya secara pembangunan, tetapi juga dalam nilai keagamaan dan akhlak. Ia juga mengapresiasi antusiasme jemaah yang datang dari berbagai daerah.
“Majelis selawat seperti ini mempererat persaudaraan. Kita duduk bersama tanpa melihat latar belakang,” katanya.
Sehari setelahnya, Kamis (12/2/2026), suasana haru dan meriah berlanjut melalui Tangerang Ngebesan 2026 di Plaza Pusat Pemerintahan Kota Tangerang. Sebanyak 106 pasangan pengantin mengikuti resepsi pernikahan massal, terdiri dari 97 pasangan beragama Islam dan 9 pasangan non-Muslim.

Kehadiran pasangan lintas agama dalam satu panggung perayaan menjadi simbol nyata keberagaman yang dirawat dalam bingkai persatuan.
Sachrudin menegaskan, Ngebesan bukan sekadar resepsi massal, tetapi ruang perayaan identitas budaya sekaligus wujud komitmen pemerintah menghadirkan kebahagiaan bagi seluruh warga.
“Kota Tangerang adalah rumah bagi semua. Kebahagiaan hari ini bukan hanya milik para pengantin, tetapi kebahagiaan kita bersama,” ujarnya.
Prosesi adat Betawi, seperti tradisi Palang Pintu dengan adu pantun dan atraksi silat, turut mewarnai rangkaian acara. Unsur budaya tersebut menjadi penanda bahwa modernisasi kota tetap berjalan beriringan dengan pelestarian tradisi.
Sebelum mengikuti resepsi, para pasangan telah melalui proses administrasi, mulai dari sidang isbat nikah bagi pasangan Muslim hingga pencatatan perkawinan bagi non-Muslim. Pemerintah kemudian memfasilitasi resepsi bersama sebagai bentuk dukungan terhadap legalitas pernikahan dan penguatan ketahanan keluarga.
Salah satu peserta, Owen, yang mengikuti acara bersama pasangannya Mishel, mengaku terharu dapat menjadi bagian dari perayaan tersebut.
“Kami merasa dihargai dan diterima. Suasananya hangat dan penuh kebersamaan,” ujarnya.
Melalui rangkaian Tangerang Berselawat dan Ngebesan 2026, Pemkot Tangerang ingin menegaskan bahwa pembangunan kota tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada penguatan harmoni sosial, budaya, dan spiritualitas. Perayaan HUT ke-33 menjadi refleksi bahwa ruang publik adalah milik bersama tanpa sekat agama, latar belakang, maupun perbedaan.(ADV)










