DLH Kota Tangerang Perkuat Gerakan Bank Sampah, Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

DLH Kota Tangerang Perkuat Gerakan Bank Sampah, Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

KOTA TANGERANG (Vivabanten.com) – Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pembentukan dan pengembangan bank sampah di berbagai wilayah Kota Tangerang. Langkah tersebut menjadi salah satu strategi dalam mengurangi timbulan sampah dari sumber, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemilahan sampah, serta mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang, Wawan Fauzi, mengatakan keberadaan bank sampah menjadi bagian penting dalam memperkuat pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Bank sampah bukan sekadar tempat menabung sampah, tetapi menjadi pusat edukasi perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan. Keberadaannya mendorong masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari rumah sekaligus memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi,” ujar Wawan.

Hingga tahun 2026, jumlah bank sampah aktif di Kota Tangerang tercatat sebanyak 124 unit yang tersebar di berbagai kecamatan. Angka tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah Kota Tangerang melalui DLH dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, sekaligus mendorong peningkatan kesadaran warga untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Sebagai bagian dari perluasan cakupan layanan pengelolaan sampah masyarakat, sejumlah bank sampah baru mulai tumbuh dan aktif di berbagai wilayah Kota Tangerang. Kehadiran bank sampah tersebut diharapkan mampu memperluas edukasi lingkungan sekaligus mempermudah akses masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga.

Beberapa bank sampah baru yang diketahui antara lain Bank Sampah Cempaka Wangi di Kelurahan Nambo Jaya, Kecamatan Karawaci; Bank Sampah Kampung Hijau di Kelurahan Sukajadi; Bank Sampah Avia Lestari di Kelurahan Jurumudi; Bank Sampah Mantap di Kelurahan Karang Anyar; Bank Sampah Gricil Hijau di Kelurahan Paninggilan; serta Bank Sampah Anggrek Bulan di Kelurahan Larangan Selatan.

Wawan menjelaskan, keberadaan bank sampah tidak hanya menjadi sarana pengumpulan sampah anorganik yang memiliki nilai jual, tetapi juga menjadi pusat edukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah yang benar, termasuk upaya mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Bank sampah juga memiliki peran penting sebagai penggerak perubahan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat penimbangan sampah, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Melalui bank sampah, masyarakat diajak membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, terutama memisahkan sampah organik dan anorganik. Edukasi tersebut dinilai penting agar sampah yang masih memiliki nilai ekonomis tidak bercampur dengan sampah residu.

Selain itu, bank sampah turut membantu membangun budaya hidup bersih dengan mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, baik di jalan, drainase, sungai, maupun ruang publik lainnya.

Tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, bank sampah juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Sampah seperti plastik, kardus, botol, logam, dan kertas dapat ditimbang serta ditabung sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Dalam operasionalnya, sejumlah bank sampah di Kota Tangerang menerapkan sistem pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Beberapa di antaranya menggunakan sistem jemput bola, yakni petugas atau pengelola mendatangi warga atau nasabah untuk mengambil sampah yang telah dipilah. Selain itu, terdapat pula sistem setoran langsung, di mana masyarakat datang ke bank sampah untuk melakukan penimbangan dan pencatatan hasil sampah yang disetorkan.

Sistem pelayanan tersebut memudahkan masyarakat untuk tetap aktif berpartisipasi dalam pengelolaan sampah sesuai kondisi lingkungan masing-masing.

Untuk memastikan bank sampah berjalan aktif dan berkelanjutan, DLH Kota Tangerang membentuk tim pembina bank sampah yang bertugas melakukan pengawasan, pendampingan, serta peningkatan kapasitas pengelola.

Tim pembina yang terdiri dari Reza, Ikka, Titing, dan Solehah memiliki sejumlah tugas utama, mulai dari monitoring dan evaluasi kegiatan bank sampah di wilayah, mengecek keaktifan operasional dan administrasi, melakukan sosialisasi serta pembinaan rutin kepada pengurus dan masyarakat, hingga memberikan pendampingan agar bank sampah tetap aktif dan berkembang.

Keberadaan tim pembina tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bank sampah tidak hanya terbentuk secara administratif, tetapi juga berjalan aktif, produktif, dan mampu memberikan dampak nyata di lingkungan masyarakat.

Selain penguatan kelembagaan, DLH Kota Tangerang juga melakukan pembinaan berbasis praktik langsung mengenai pemanfaatan sampah, khususnya sampah organik dan limbah rumah tangga.

Beberapa materi pembinaan yang diberikan antara lain pembuatan kompos, eco-enzyme, Mikroorganisme Lokal (MOL), pembuatan sabun dari minyak jelantah, pembuatan lilin dari minyak jelantah, pemanfaatan limbah kulit buah menjadi tepache, hingga pembuatan kokedama sebagai tanaman hias bernilai estetika dan ekonomi.

DLH Kota Tangerang berharap keberadaan bank sampah dapat terus menjadi pusat edukasi perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan sekaligus mendorong pengelolaan sampah dari sumber.

“Sampah yang dikelola dengan baik memiliki nilai ekonomi dan dapat memberikan manfaat tambahan bagi warga. Pengelolaan sampah dari sumber menjadi kunci untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke TPA,” tutup Wawan.(ADV)

Pos terkait