TANGSEL (Vivabanten.com) – Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif, kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) menjadi salah satu keterampilan yang tak lagi sekadar pelengkap. Bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), kemampuan menyampaikan gagasan dengan percaya diri dinilai sama pentingnya dengan penguasaan kompetensi teknis.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang (Unpam) menggelar pelatihan public speaking bagi siswa SMK Letris 1 Indonesia, Pamulang, Tangerang Selatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung pada 20–21 April 2026 itu mengusung tema “Pelatihan Public Speaking sebagai Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Remaja dalam Berkomunikasi di Depan Umum.”
Pelatihan dipandu oleh dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang, Afni Yoana Tjahyani Gusma, S.I.Kom., M.I.Kom. dan Suci Indah Sari, S.I.Kom., M.I.Kom., yang mengombinasikan materi konseptual dengan praktik langsung agar peserta mampu mengembangkan kemampuan komunikasi secara efektif.
Afni Yoana Tjahyani Gusma mengatakan, banyak remaja sebenarnya memiliki kemampuan dan ide yang baik, tetapi kesulitan menyampaikannya karena kurang percaya diri ketika berbicara di depan banyak orang.
Menurutnya, kemampuan public speaking bukanlah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan diasah melalui latihan yang berkelanjutan.
“Rasa gugup merupakan hal yang wajar. Bahkan pembicara profesional pun masih mengalaminya. Yang terpenting bukan menghilangkan rasa gugup, tetapi bagaimana mengendalikannya agar berubah menjadi energi positif saat berbicara di depan audiens,” ujar Afni.
Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai teknik vokal, pengaturan intonasi, artikulasi, penggunaan bahasa tubuh, membangun kontak mata dengan audiens, hingga teknik mengelola kecemasan sebelum tampil berbicara di depan umum.
Tidak berhenti pada penyampaian teori, para peserta juga diajak mempraktikkan langsung kemampuan mereka melalui berbagai simulasi, mulai dari memperkenalkan diri secara profesional, menyampaikan pendapat, hingga melakukan presentasi produk sebagaimana yang kerap ditemui dalam dunia kerja.
Suci Indah Sari menjelaskan, pendekatan learning by doing dipilih agar siswa memperoleh pengalaman langsung sekaligus membangun keberanian untuk tampil di depan publik.
“Lulusan SMK dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Karena itu mereka harus mampu memperkenalkan diri, menyampaikan ide, hingga melakukan presentasi dengan baik. Kemampuan komunikasi menjadi salah satu nilai tambah yang sangat dibutuhkan oleh dunia industri saat ini,” kata Suci.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para siswa terlihat antusias mengikuti setiap sesi, berdiskusi, hingga mencoba berbagai teknik komunikasi yang diberikan oleh narasumber. Perubahan pun mulai terlihat pada hari kedua pelatihan. Peserta yang semula tampak malu-malu mulai berani tampil di depan kelas dengan penyampaian yang lebih runtut, suara yang lebih lantang, serta gestur tubuh yang lebih meyakinkan.
Menurut tim dosen, peningkatan kepercayaan diri menjadi indikator penting keberhasilan pelatihan tersebut. Sebab, kemampuan berkomunikasi bukan hanya dibutuhkan saat presentasi di kelas, tetapi juga ketika mengikuti wawancara kerja, membangun relasi profesional, hingga mengembangkan usaha di masa depan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang berharap para siswa mampu menjadikan kemampuan komunikasi sebagai salah satu soft skills utama yang terus dikembangkan. Dengan bekal tersebut, lulusan SMK diharapkan tidak hanya unggul dalam kompetensi teknis, tetapi juga memiliki kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan daya saing yang lebih kuat di dunia kerja maupun dunia usaha.
Kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi, pemberian apresiasi kepada peserta terbaik, serta foto bersama sebagai penutup rangkaian pelatihan.(ded/joe)
