PENGUATAN P5 MELALUI KARYA SENI TARI LENGANG CISADANE PADA KURIKULUM MERDEKA SEKOLAH DASAR DI KOTA TANGERANG

Oleh:

Ahmad Arif Fadilah, S.Pd,. M.Pd

Bacaan Lainnya

TARI Lenggang Cisadane yang merupakan perpaduan unsur budaya Sunda, Jawa, Betawi, Cina, dan Arab. Nama Cisadane disertakan dalam nama tarian sebagai bentuk promosi sungai yang menjadi ikon Kota Tangerang.

Tarian ini merupakan hasil kreasi para seniman dan budayawan lokal dengan menggabungkan seni musik, seni gerak, dan seni tata busana. Meskipun terpengaruh oleh lima budaya yang disebutkan di atas, budaya asli Tangerang tetap berhasil ditampilkan di dalamnya. Oleh karena itu, pada 2011 lalu Tari Lenggang Cisadane diresmikan sebagai tari tradisional khas kota tersebut.

Dilihat dari gerakannya, tari Lenggang Cisadane sedikit menyerupai Jaipong dan Jali-jali. Alat musik pengiring tarian ini antara lain marawis, gamelan slendro, dan gambang kromong yang dimainkan oleh tim pemusik. Lagu-lagu marawis pun tak lupa ikut dinyanyikan sehingga suasana yang dihadirkan oleh tarian tersebut menjadi meriah.

Salah satu keunikannya yaitu jumlah penari harus terdiri atas 13 orang sebagai perlambang jumlah kecamatan di Kota Tangerang. Kini, tari Lenggang Cisadane banyak dipentaskan dalam acara-acara penting di lingkup pemerintahan dan menjadi ekstrakurikuler di berbagai sekolah.

Selain itu, tarian ini juga diperuntukkan sebagai penyambut tamu sehingga nilai kesopanan dan keramahan terkandung di dalamnya. Semoga tarian ini terus berkembang, lestari, dan dikenal tidak hanya oleh masyarakat setempat saja tetapi seluruh Indonesia.

Tari Lenggang Cisadane diciptakan oleh seorang seniman asal Kota Tangerang yang bernama H. Yunus Ahmad Sanusi.

Terciptanya tarian ini berangkat dari keprihatinannya terhadap budaya tradisional yang mulai hilang dimakan zaman. Yunus yang merupakan guru seni dan budaya ini akhirnya menciptakan tarian tradisional baru yang memang diperuntukan bagi remaja.

Gerakan tarian yang diciptakan Yunus ini pun akhirnya dilirik oleh Pemerintah setempat. Hingga akhirnya pada tahun 2011 Tari Lenggang Cisadane ditetapkan sebagai tarian selamat datang oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tangerang.

Asal Muasal Tari Lenggang Cisadane berasal dari kata Lenggang dan Cisadane. Kata “lenggang” berarti gerakan melangkah sambil mengayun-ayunkan tangan secara bergantian kiri dan kanan sesuai langkah kaki.

Sedangkan “Cisadane” merupakan salah satu nama sungai yang membelah Kota Tangerang. Makna penamaan Cisadane adalah bahwa siapapun yang sudah menginjakkan kakinya di Tangerang dan meminum air Cisadane, maka ia akan betah berada di Tangerang.
Dengan demikian tarian Lenggang Cisadane mengandung makna tarian yang penuh keceriaan karena melenggang di Kota Tangerang.

Meski Tarian Lenggang Cisadane menggabungkan perpaduan Tarian Cokek, Tarian Topeng Betawi dan Tari Jaipong, namun gerakan Lengang Cisadane dibuat lebih halus dan sopan. Hal ini mengingat semua gerakan disesuaikan dengan norma-norma kesopanan yang ada di Kota Tangerang.

Ada sepuluh gerakan inti dalam tari Lenggang Cisadane yaitu Sibat, Landangan, Keupat, Selut, Lungsar, Cocor Bebek, Keupat Linggek, Lontang Canting, Kewer II, dan Sontang Lageday. Tarian Lenggang Cisadane juga menggunakan gerakan Tari Melayu.

Meski demikian, Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menguatkan Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5.

P5 adalah upaya untuk mewujudkan Pelajar Pancasila yang mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

Untuk itu, sejak dari sekolah dasar, pemahaman terhadap Pancasila terus di gencarkan, agar para generasi muda bisa bekerjasama dalam memahami sejarah dan budaya di Kota Tangerang.

Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor di Universitas Pakuan Bogor Jawa Barat.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *