Dari Kilometer 0 Indonesia: Sabang Miliki Destinasi Wisata Alam dan Laut Yang Eksotis


Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/vivabant/public_html/wp-content/themes/bloggingpro/template-parts/content-single.php on line 81

Oleh: Jojo Sudirjo

INDONESIA memiliki berbagai gugusan pulau yang terbentang dari pulau Sabang sampai Merauke, dan dari pulau Nias sampai pulau Rote. Dibalik pulau-pulau yang terbentang tersebut, Indonesia memiliki keindahan pariwisata yang eksotis dan dijadikan destinasi wisata nusantara.

Pulau Sabang Banda Aceh. Mungkin dalam benak kita langsung tertujuh kepada sebuah pulau yang letaknya paling ujung Barat Indonesia yaitu sebuah pulau ujung Sumatera dan juga dinamakan Kota Serambi Mekkah.

Untuk menikmati desnitasi wisata yang ada di pulau Sabang ini, kita harus menyeberangi perairan laut Sabang yang dimulai dari dermaga Pelabuhan Ulee Lheue Kota Banda Aceh menuju Dermaga Balohan Sabang.

Perjalanan dari Dermaga Ulee Lheue menuju Dermaga Balohan membutuhkan waktu tempu sekitar 45 menit hingga 1 jam, dengan menggunakan Kapal Cepat yang memiliki kapasitas penumpang 360 orang.

Pelabuhan Ulee Lheue Kota Banda Aceh.

Baru saja kita lepas landas dari Dermaga Ulee Lheue sudah disuguhkan dengan keindahan laut dikelilingi gugusan pulau-pulau. Deburan ombak dan angin laut yang tersapu oleh laju Kapal Cepat yang kami tumpangi tersebut, membuat suasana semakin sejuk dan asyik karena saat itu penulis berada pada dek kapal bagian atas.

Satu jam sudah perjalanan kami tempu dari Dermaga Ulee Lheue Banda Aceh menuju ke Dermaga Balohan Kota Sabang. Kembali, penulis disuguhkan eksotis keindahan pulau Sabang ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau terluar Indonesia bagi Barat tersebut.

Pukul 10.00 Wib (pagi) penulis sampai di Pulang Sabang, kami disambut oleh penjemput rombongan yang sudah siap mengantarkan kami menuju Balai Kota Sabang untuk bertemu dengan Penjabat (Pj) Walikota Sabang, Drs. Reza Fahlevi, M.Si.

Bersama rombongan kami disajikan jamuan makan selamat datang berupa nasi gurih atau nasi uduk biasa orang Jakarta menyebutnya, yang isinya tidak jauh berbeda yaitu nasi, oreg tempe, mie, telor, daging dan kerupuk, kemudian jamuan ditutup dengan minum kopi sanger khas kopi Aceh yaitu kopi dicampur susu kental manis.

Pelabuhan Balohan Kota Sabang.

Kami bersama rombongan mendapatkan kemudahan akses bisa bertemu dan bercengkrama dengan orang nomor satu di Kota Sabang bersama para pejabat tinggi terkait, lantaran kami saat itu sedang menggelar kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dan saat itu sebagai tuan rumah adalah Pengurus Daerah (Pengda) JMSI Aceh.

Dalam perbincangan dengan nuansa keakraban antara rombongan pengurus daerah JMSI se Indonesia dengan Pj Walikota Sabang dijelaskan, bahwa Sabang adalah salah satu kota di Aceh, yang dikelilingi kepulauan. Ada Pulau Weh sebagai pulau terbesar di Kota Sabang, Pulau Rubiah, ada Pulau Rondo yang merupakan pulau paling terluar Indonesia bagian Barat dan menjadi titik pusat gempa Aceh tahun 2004 lalu. Kota Sabang juga merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk 42.559 pada tahun 2021.

Kilometer 0 Indonesia Sabang

Berada di Pulau Sabang belum lengkap rasanya kalau kita tidak berkunjung ke sebuah Tugu yang dinamakan “Kilometer 0 Indonesia”. Tugu ini merupakan titki 0 (Nol) kilometer Indonesia yang terletak di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang. Lokasi tersebut, tepatnya berada di area Hutan Wisata Sabang.

Tugu Kilometer 0 Indonesia ini memiliki ketinggian sekitar 43,6 meter di atas permukaan laut, di puncak tugu terdapat patung Garuda mencengkram perisai yang membentuk angka nol.

Untuk menuju tugu “Kilometer 0 Indonesia” ini, penulis membutuhkan jarak tempu perjalanan 3 (tiga) jam dari kantor Walikota Sabang. Lagi-lagi, kami disuguhkan keindahan alam perbukitan dengan kontruksi jalan naik, turun yang curam kemudian berkelok-kelok dengan disisi jalan terbentang laut yang bersih dan terlihat membiru.

Tugu Kilometer 0 Indonesia yang berada di ujung barat Indonesia.

Kondisi jalan naik, turun dan berkelok-kelok yang curam ini membuat jantung kami terus berdenyut kencang. Serasa mengerikan jika melihat sisi kana dan kiri yang hanya terlihat hutan dan jurang, namun tidak menyurutkan niat kami untuk bisa melihat tugu “Kilometer 0 Indonesia”.

Benar saja, tiga jam perjalanan akhirnya kami sampai di Tugu “Kilometer 0 Indonesia”. Dimana Tugu ini merupakan titik nol kilometer Indonesia, yang berada di paling ujung barat Indonesia.

Dercak kagum keindahan pemandangan alam, pepohonan yang rindang dan laut biru  membentang luas membuat suasana semakin cantik mempesona memanjakan mata kami para pengunjung. “Begitu Indah Ciptaan-Mu Ya Rob” itu kalimat yang terbesit dalam hati sanubari kami saat itu.

Keindahan yang sangat luar bisa dan memanjakan mata kami itu, membuat kami seolah tidak ingin meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Serasa kami sangat betah untuk terus menikmati suasana alam pegunungan dan laut.

Tidak menyianyiakan pemandangan yang begitu indah tersebut, kami mengabadikan dengan melakukan foto-foto dari berbagai sudut yang menurut kami harus diabadikan. Kondisi alam yang dingin dengan semilir anginnya, membuat suasana semakin sejuk.

Dan tak kalah penting lagi, pemerintah daerah Kota Sabang telah menyiapkan sebuah lembaran sertifikat yang langsung di tandatangani Pj Walikota Sabang. Lembaran sertifikat tersebut, untuk menandakan bahwa para pengunjung benar-benar telah berkunjung di “Kilometer 0 Indonesia”.

Keindahan Bawah Laut Pulau Rubiah

Dengan kondisi Kota Sabang yang berguguskan pulau-pulau ini, sudah barang tentu wisata bawah laut menjadi salah satu incaran para wisatawan lokal maupun Internasional untuk berkunjung ke Kota Sabang ini.

Termasuk penulis dan rombongan, tidak mau menyianyiakan kesempatan saat berada di Kota Sabang. Setelah selesai menikmati indahnya alam pegunungan yang sejuk di “Kilometer 0 Indonesia”, kami kembali malakukan perjalanan menuju pantai Pulau Weh.

Pulau Weh atau dikenal juga dengan Pulau Sabang adalah pulau vulkanik kecil yang terletak di barat laut Pulau Sumatra. Pulau ini pernah terhubung dengan Pulau Sumatra, namun kemudian terpisah oleh laut setelah meletusnya gunung berapi terakhir kali pada zaman Pleistosen. Pulau ini terletak di Laut Andaman.

Snorkeling di Pulau Rubiah melihat keindahan bawah laut.

Setelah kami beristirahat sejenak di sebuah bungalow-bungalow yang telah disiapkan panitia Event Organizer. Pada sore hari sekitar pukul 15.00 Wib, kami melakukan perjalanan wisata laut dengan mengeliligi Pulau Weh dan berakhir di Pulau Rubiah untuk Snorkeling (selam permukaan) atau selam dangkal (skin diving).

Setelah kami melakukan persiapan peralatan menyelam berupa masker selam dan snorkel, alat bantu gerak berupa kaki katak (sirip selam) dan baju pelampung. Setelah melakukan negosiasi dan tawar menawar harga dengan pengelola, terkait sewa perahu dan peralatan begitu juga pemandu selam kami pun berangkat.

Hanya tujuh orang dalam satu rombongan perjalanan yang bisa berkeliling Pulau Weh dan Snorkeling yang menjadi syarat dari pengelola wisata laut dalam satu perahu. Hamparan laut yang luas dan gugusan pulau Weh yang begitu panjang membuat suasana semakin asyik dan menyenangkan.

Perahu yang kami tumpangi bisa langsung melihat kondisi keindahan dasar laut. Disepanjang perjalanan kami disuguhkan keindahan biota laut seperti ikan-ikan yang sangat beragam jenisnya, terumbu karang yang sebagian rusak karena gempa dan tsunami pada tahun 2004 lalu, meskipun begitu masih terlihat indahnya laut Kepulauan Weh.

Perjalanan laut kami terhenti di Pulau Rubiah untuk bersnorkeling. Pulau Rubiah merupakan sebuah pulau yang sangat cantik dan dijadikan taman laut serta menjadi destinasi wisata terpopuler di Kota Sabang.

Luas wilayah Pulau Rubiah sekitar 2.600an Hektar yang terkenal dengan pemandangan alam kerajaan bawah laut nya. Keadaan alam bawah laut yang masih asri dan alami dengan berbagai macam biota laut yang hidup, sehingga membuat kami para pengunjung menjadi betah untuk berlama-lama di pulau ini.

Perjalanan keliling Pulau Weh dan berakhir di Pulau Rubiah.

Tidak lama-lama, kami pun langsung turun ke laut dengan menggunakan peralatan menyelam dan dipandu oleh instruktur selam asli warga setempat. Setelah diberikan beberapa materi teknik menyelam oleh sang instruktur, kami langsung melakukan penyelaman. Benar saja, terumbu karang yang sangat terjaga dengan baik bahkan biota laut seperti ikan yang beragam jenis dan warna mengerumi kami para penyelam.

Agar para ikan yang beraneka ragam jenis dan warna tersebut mau berkumpul dan mengelilingi kita saat menyelam. Kami membawah makanan ikan berupa mie instan yang dikremes atau dihancurkan kemudian diberikan ke ikan saat menyelam.

Rasa senang bercampur gembira menyelimuti kami para penyelam karena bisa langsung berinteraksi dengan ikan-ikan laut Pulau Rubiah. Lagi lagi kami berucap “Begitu Indah Laut dan ikan-ikan Hasil Ciptaan-Mu Ya Rob”. Itu lah sedikit pengalaman perjalanan kami melihat keindahan Pulau Sabang yang menjadi Ikon pulau terindah di ujung Barat Indonesia.(*)

Penulis adalah Mahasiswa
Program Studi Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Pamulang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *